Kemenbud: Revitalisasi Keraton Surakarta Tetap Berjalan
Kementerian Kebudayaan
Tantangan dari dinamika internal keluarga
Lawyer Keraton Surakarta, Teguh Satya Bhakti, menyatakan persoalan internal keluarga menjadi salah satu hambatan utama dalam pelestarian cagar budaya. Ia menilai kasus serupa juga terjadi di sejumlah kesultanan dan keraton lain di Indonesia.
Teguh menjelaskan konflik keluarga acap kali bersinggungan dengan upaya pemerintah untuk mengelola dan merawat aset keraton. Menurutnya, persoalan tersebut harus dipisahkan agar program pelestarian tidak terhambat.
"Pemerintah ingin melaksanakan tugas dan kewenangannya untuk merevitalisasi, menata ulang, serta melindungi seluruh aset. Namun di sisi lain selalu berbenturan dengan persoalan yang sifatnya internal kekeluargaan,"
Dia menambahkan bahwa negara wajib hadir menjaga warisan budaya, tetapi tidak perlu terlibat langsung dalam penyelesaian konflik keluarga yang bersifat internal.
"Oleh karena itu, kita harus memisahkan kedua persoalan antara urusan internal keluarga dan pemerintahan. Sehingga masing-masing dapat diselesaikan sesuai kewenangan dan tanggung jawab yang dimiliki,"
Sikap resmi Kementerian Kebudayaan
Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, menegaskan bahwa suksesi keraton adalah urusan internal keluarga. Pemerintah tetap fokus pada tugas perlindungan dan pengelolaan cagar budaya nasional sesuai peraturan yang berlaku.
"Urusan suksesi merupakan urusan keluarga, sedangkan tugas kami menjalankan amanat Undang-Undang Cagar Budaya nasional. Jika telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional, maka perlindungan dan pengembangannya menjadi kewajiban pemerintah,"
Restu menegaskan kementerian akan melanjutkan program revitalisasi pada keraton yang telah berstatus cagar budaya nasional. Langkah ini bertujuan menjaga nilai budaya sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Untuk rujukan aturan dan mandat pemerintah terkait pelindungan cagar budaya, masyarakat dapat mengakses kebijakan resmi melalui peraturan.go.id.
Dampak program dan langkah ke depan
Dengan pemisahan penyelesaian konflik internal dan pelaksanaan program pemerintah, diharapkan revitalisasi dapat berjalan lebih lancar. Pelestarian fisik dan pengembangan fungsi ruang keraton tetap menjadi prioritas.
Langkah revitalisasi mencakup penataan ulang aset, perbaikan fisik, dan pengelolaan yang memberi manfaat luas bagi masyarakat serta pelestarian nilai sejarah. Pemerintah menegaskan proses tersebut akan berjalan meski dinamika internal berlangsung.
Ke depan, pemerintah dan pihak keraton diharapkan berkoordinasi secara jelas agar tugas-tugas pelindungan dan urusan keluarga masing-masing dapat diselesaikan sesuai kewenangan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Baleg Dorong RUU Air Minum dan Sanitasi Percepat Penurunan Stunting
Baleg DPR mendorong RUU Air Minum dan Sanitasi sebagai instrumen percepat penurunan stunting dengan menekank...
Eks Hotel Sultan Berpotensi Dirobohkan dalam Penataan GBK
Menteri Rosan Roeslani menyatakan eks Hotel Sultan berpotensi dirobohkan dalam rencana penataan menyeluruh k...
Kemenbud Dorong Pelurusan Sejarah W.R. Soepratman dan Perkuat Literasi
Kemenbud mendorong pelurusan sejarah W.R. Soepratman dan memperkuat literasi kepahlawanan untuk mengenalkan...
Prabowo Resmikan 1.151 Km Jalan Daerah, Tekan Biaya Logistik
Presiden resmikan 1.151 km jalan daerah di 37 provinsi untuk memperkuat konektivitas dan menurunkan biaya lo...
Presiden Minta Hotel Sultan Jadi Ikon Baru Indonesia
Presiden Prabowo minta kawasan Hotel Sultan dikembangkan jadi ikon baru Indonesia terintegrasi dengan GBK; r...
Menteri ESDM Minta PLN Segera Atasi Pemadaman Bergilir
Menteri ESDM minta PLN segera atasi pemadaman bergilir dengan langkah teknis terukur, sambil memastikan paso...