Retaining wall SMAN-2 Besitang rubuh, bangunan sekolah terancam
Retaining wall di depan gedung SMAN-2 Besitang, Lingk VI Bukit Gayo, Kelurahan Kampung Lama, Kecamatan Besitang, terancam ambruk setelah dua titik tembok penahan tanah runtuh, Senin (8/6). Kondisi itu mengancam keselamatan bangunan sekolah yang terletak di pinggiran perbukitan.
Keadaan lapangan dan kronologi
Pantauan di lapangan, Senin (8/6), menunjukkan dua bagian tembok beton setinggi lebih dari 3 meter telah rubuh. Retaining wall itu dirancang menahan tekanan lateral tanah untuk mencegah longsor, tetapi kini kerusakan nyata terlihat pada bagian depan gedung.
Menurut warga setempat, keretakan pada tembok muncul beberapa tahun setelah konstruksi. Hingga kini belum ada perbaikan signifikan dari dinas terkait.
Penyebab diduga dan risiko yang mengancam
Rubuhnya tembok diduga akibat kualitas konstruksi yang rendah. Kondisi tembok yang retak dan ambrol meningkatkan risiko longsor pada musim hujan atau akibat pergerakan tanah.
"Kondisi ini tentu sangat riskan. Jika tembok ini tak segera diperbaiki, maka bukan tidak mungkin gedung sekolah yang berdiri persis di pinggiran tebing bisa ikut ambruk apabila terjadi longsor," kata seorang warga.
Jika tidak segera ditangani, dampak terburuknya adalah kerusakan struktural pada gedung sekolah dan potensi evakuasi siswa serta penghentian sementara aktivitas belajar mengajar.
Dampak perubahan status sekolah dan fasilitas yang tak terpakai
SMAN-2 Besitang sempat direncanakan menjadi SMA Plus pada 2020 oleh Gubernur Sumut terdahulu. Rencana itu tidak terealisasi, sehingga status sekolah berubah kembali menjadi SMAN-2 Besitang.
Perubahan status berdampak pada minat pendaftaran. Sejak PPDB tahun ajaran 2024 hingga 2026, jumlah pendaftar tercatat sangat minim dan sebagian besar berasal dari warga lokal Teluk Aru, Langkat.
Akibatnya, sejumlah fasilitas yang dibangun megah kini kurang terpakai. Ruang kelas kosong, kantin mewah, dan asrama yang dilengkapi tempat tidur menjadi mubazir karena minimnya siswa.
Implikasi anggaran dan langkah yang diperlukan
Proyek peningkatan sekolah yang menelan anggaran puluhan miliar rupiah dinilai kurang efektif oleh beberapa kalangan. Mereka menilai pembangunan tersebut tidak rasional, mengingat di kecamatan berbatasan dengan Aceh itu telah berdiri SMAN-1.
Pengawasan kualitas konstruksi dan perbaikan segera retaining wall menjadi kebutuhan mendesak. Selain itu, perencanaan pemanfaatan fasilitas sekolah perlu dievaluasi agar investasi publik tidak terbuang sia-sia.
Penanganan cepat oleh pemerintah daerah dan dinas pendidikan diperlukan untuk mencegah kerugian lebih besar serta menjamin keselamatan siswa dan tenaga pendidik.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Polda Sumut Ungkap Motif Pembunuhan Wakil Rektor IT&B di Berastagi
Polda Sumut menangkap dua pelaku pembunuhan Wakil Rektor II IT&B di Berastagi. Motifnya untuk menguasai hart...
Tiorita Tinjau Perbaikan Jalan Longsor di Salapian, Langkat
Plt Bupati Langkat Tiorita Br Surbakti meninjau perbaikan jalan longsor di Salapian (29/9); Pemkab turunkan...
Wali Kota Lhokseumawe Siapkan Pendampingan Hukum untuk Keluarga Rasya
Wali Kota Lhokseumawe janjikan pendampingan hukum untuk keluarga Muhammad Rasya Fadilla dan akan menyiapkan...
DPR Minta Warga Tenang dan Percayakan Penyelidikan Kasus Mahasiswa Pelayaran
Anggota DPR Komisi V, Ghufran, menyampaikan duka atas meninggalnya mahasiswa Politeknik Malahayati dan memin...
Pemkab Aceh Besar dan BNN Sinergi Pulihkan Kawasan Rawan Narkoba
Pemkab Aceh Besar dan BNN memperkuat sinergi untuk memulihkan kawasan rawan narkoba lewat pencegahan, pember...
Labuhanbatu Gelar Bupati Cup PBSI 2026, 250 Peserta Ikut
Turnamen Bupati Cup PBSI Labuhanbatu 2026 resmi dibuka di Rantauprapat, diikuti sekitar 250 peserta dari 10...