Nasional

Rasuna Said: Pejuang Emansipasi yang Jadi Pahlawan Nasional

Bagikan:
Potret Rasuna Said, pejuang emansipasi dan Pahlawan Nasional Indonesia

Rasuna Said dikenal sebagai pejuang kemerdekaan dan tokoh emansipasi perempuan yang aktif dalam pergerakan nasional. Ia menonjol lewat upaya pendidikan dan organisasi untuk memperjuangkan persamaan hak, hingga mengakhiri hayatnya pada 2 November 1965 sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia.

Awal kehidupan dan pendidikan

Rasuna Said tumbuh di lingkungan Minangkabau yang kala itu membatasi peran perempuan, namun ia mendapat dukungan pendidikan sejak kecil. Pada usia enam tahun ia belajar di Sekolah Desa Maninjau hingga kelas lima, lalu melanjutkan ke Diniyah School di Padang Panjang di bawah pimpinan Zainudin Lebai El Yunisi.

Gempa besar di Padang Panjang pada 1926 memaksa Rasuna kembali ke kampungnya. Ia belajar kepada H. Abdul Majid sebelum melanjutkan ke Sekolah Thawalib Payinggahan Maninjau, sebuah lembaga yang beraliran nasionalis dan memiliki semangat perjuangan yang kuat.

Masuk dunia organisasi dan politik

Kecakapan dan kecerdasan Rasuna mendorongnya terlibat aktif dalam organisasi. Pada 1926 ia bergabung dengan Sarikat Rakyat dan dipercaya sebagai pengurus yang bertugas menulis. Ketika Sarikat Rakyat berubah menjadi Partai Serikat Islam Indonesia (PSII), Rasuna tetap aktif di struktur organisasi.

Perkembangan organisasi membawanya ke Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI), yang lahir dari konferensi Sumatra Thawalib di Bukittinggi pada 22-27 Mei 1930. Karena aturan keanggotaan partai, Rasuna akhirnya keluar dari PSII dan melanjutkan perjuangan politiknya bersama PERMI.

Fokus pada pendidikan sebagai alat perjuangan

Di lingkungan PERMI, Rasuna Said memainkan peran penting dalam bidang pendidikan publik. Ia menyelenggarakan berbagai kursus untuk memberantas buta huruf dan memperkuat kader melalui inisiatif pendidikan. Ia juga mengajar di Sekolah Thawalib Puteri, memimpin Kursus Putri, serta mengajar pada Kursus Normal di Bukittinggi.

Aktivitas pendidikan yang dipimpinnya mendorong perluasan pengaruh PERMI hingga ke daerah-daerah seperti Tapanuli, Bengkulu, Palembang, dan Lampung. Melalui program-program ini, Rasuna membantu membentuk generasi yang lebih melek politik dan pendidikan.

Kehidupan pribadi, akhir hayat, dan warisan

Dalam kehidupan pribadi, Rasuna Said menikah dengan Dusky Samad dan dikaruniai seorang putri bernama Auda, yang kemudian menetap bersama keluarga di Jakarta. Meski kesehatannya menurun karena penyakit kanker, Rasuna tetap melanjutkan pengabdiannya bagi bangsa hingga wafat pada 2 November 1965.

Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Dedikasi Rasuna dalam memperjuangkan hak perempuan, pendidikan, dan kemerdekaan menjadikannya dikenang sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait