KKP Kembangkan Tambak Udang Modern di Kebumen
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperluas pengembangan Tambak Budi Daya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) di Kebumen, Jawa Tengah, sebagai model tambak udang modern untuk meningkatkan produksi dan ekspor. Program ini memperbarui lahan tambak tidak produktif menjadi kawasan budi daya seluas 100 hektare, dengan pengoperasian awal pada 24 hektare kolam efektif.
Progres produksi dan siklus panen
Saat ini BUBK Kebumen mengelola 139 petak produksi dan telah memasuki siklus kedelapan. Pada siklus tersebut, panen terbagi menjadi dua tahap utama: panen kedua di 37 petak dan panen akhir di 70 petak.
| Siklus / Tahap | Jumlah Petak | Perkiraan Produksi (ton) |
|---|---|---|
| Panen kedua (siklus 8) | 37 | ~75 |
| Panen akhir (siklus 8) | 70 | ~90 |
| Total siklus 8 | 139 | ~254,5 |
KKP juga menyatakan bahwa siklus kesembilan telah dimulai untuk menjaga kesinambungan produksi di kawasan tersebut.
Keterangan pejabat KKP
"Indonesia memiliki tambak udang terbesar yang berlokasi di Kebumen. BUBK Kebumen ini menjadi salah satu program unggulan KKP untuk mendorong produksi udang nasional, mengingat udang merupakan salah satu komoditas ekspor perikanan terbesar dan andalan Indonesia di pasar global,"
— Ayu Rahmawati, Juru Bicara KKP, Rabu 5 Agustus 2026
Dampak sosial-ekonomi
Pengoperasian BUBK Kebumen juga menyerap tenaga kerja lokal. Saat ini tercatat 645 tenaga kerja yang bekerja di kawasan, terdiri atas 145 pekerja tetap dan 500 pekerja harian lepas. Penyerapan tenaga kerja ini turut mendorong aktivitas ekonomi di sekitar tambak.
Dampak ekonomi terlihat nyata melalui tumbuhnya usaha kecil di sekitar lokasi. Beberapa contoh termasuk:
- warung makan dan toko kebutuhan harian,
- penyedia sarana tambak seperti pakan dan peralatan,
- jasa transportasi untuk distribusi hasil panen,
- layanan penginapan bagi tenaga kerja dan pengunjung teknis.
Prospek dan kelanjutan
Dengan model kawasan budi daya modern, KKP menargetkan peningkatan produksi berkelanjutan dan daya saing ekspor udang Indonesia. Pengelolaan yang terpusat diharapkan meningkatkan efisiensi, kualitas produk, dan kepastian pasar bagi petani udang.
Keberlanjutan program akan bergantung pada pemeliharaan kualitas air, manajemen biosekuriti, dan dukungan teknis untuk petani lokal agar produksi tetap stabil dan berkelanjutan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Rasuna Said: Pejuang Emansipasi yang Jadi Pahlawan Nasional
Rasuna Said adalah pejuang kemerdekaan dan tokoh emansipasi perempuan yang aktif mengembangkan pendidikan da...
BMKG: Cuaca Bergeser, Bengkulu dan Sulawesi Barat Masuk Zona Waspada
BMKG memperbarui peringatan dini 6-7 Agustus 2026: Bengkulu dan Sulawesi Barat waspada, Sulawesi Tengah masu...
BGN Wajibkan SLHS, Dapur Program MBG Tanpa Sertifikat Ditutup
BGN mewajibkan SLHS untuk semua dapur MBG; dapur tanpa sertifikat akan ditutup permanen. Batas pengurusan hi...
Sejarah Perang Banjar: Penyebab, Kronologi, dan Akhir
Ringkasan Perang Banjar: pemberontakan rakyat Banjar melawan Belanda sejak 1859, dipimpin Pangeran Antasari;...
128.331 Daftar War Ticket untuk Upacara HUT ke-81 di Istana
Sebanyak 128.331 pendaftar dari 36 provinsi dan 14 negara berebut undangan Upacara HUT ke-81 di Istana Merde...
Pertempuran Medan Area: Perlawanan Rakyat Melawan Sekutu-NICA
Pertempuran Medan Area (Okt 1945–Feb 1947) adalah perlawanan rakyat Sumatra Utara melawan pasukan Sekutu yan...