Lokal

Ilham Maulana: Rasa Malu Nikmat yang Menjaga Fitrah

Bagikan:
Prof Ilham Maulana memberi khutbah Jumat tentang pentingnya rasa malu

Aceh Besar, 3 Juli 2026 — Guru Besar FMIPA Kimia Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. rer. nat. Ilham Maulana, S.Si, menyampaikan pentingnya rasa malu sebagai 'alarm' hati dan bagian dari iman saat khutbah Jumat di Masjid Al-Hidayah, Dusun Meusara Agung, Kecamatan Darul Imarah, Jumat (3/7/2026).

Rasa malu: nikmat dan alarm hati

Ilham Maulana menegaskan bahwa rasa malu bukan kelemahan, melainkan salah satu nikmat terbesar dari Allah yang menandakan hati masih hidup. Ia berpesan agar rasa malu dirawat melalui ilmu, ibadah, dan taubat sehingga jalan kembali kepada Allah tetap terbuka.

“Selama hati manusia masih merasa malu ketika berbuat dosa, jangan anggap itu kelemahan. Justru itulah salah satu nikmat terbesar dari Allah.”

Perhatian Islam terhadap hal-hal halus

Menurutnya, salah satu bukti kesempurnaan Islam adalah perhatian pada hal-hal detail dan lembut, termasuk rasa malu. Dia mengingatkan perubahan sosial saat ini yang membuat rasa malu semakin langka.

“Hari ini, banyak kesalahan justru dipamerkan. Aurat diumbar tanpa rasa sungkan, kebohongan dipertontonkan, kemaksiatan direkam dan dibagikan, bahkan harta hasil korupsi pun dipamerkan seolah sebuah keberhasilan. Yang memalukan justru perlahan dianggap biasa.”

Fitrah manusia dan pengaruh lingkungan

Ilham menguraikan bahwa setiap manusia lahir di atas fitrah. Islam tidak datang untuk mengubah fitrah, melainkan menjaga agar manusia tetap berada di atas ṣiraṭal mustaqim. Sebaliknya, setan berusaha mengikis fitrah dengan membuat kebiasaan yang melunturkan rasa malu.

“Yang lebih sering ia lakukan adalah membuat manusia terbiasa. Ketika dosa diulang terus-menerus, rasa malu perlahan menghilang.”

Perspektif psikologi modern dan neuroscience

Di bagian lain khutbah, Ilham mengaitkan konsep tradisional dengan temuan psikologi dan neuroscience. Ia menyebut rasa malu sebagai salah satu moral emotion yang membantu menjaga perilaku sesuai nilai yang diyakini.

“Dengan kata lain, rasa malu bukan sekadar hasil budaya, tetapi memang menjadi bagian dari desain manusia untuk menjaga kehidupan yang bermartabat.”

Ia menambahkan bahwa penelitian menunjukkan area otak yang mengendalikan empati, pengendalian diri, dan penilaian sosial aktif saat pengambilan keputusan moral.

Dampak hilangnya rasa malu

Ilham memperingatkan bahwa hilangnya rasa malu menandai kemunduran moral dan spiritual. Ia memberi contoh nyata: pejabat yang tega mengkhianati amanah, hakim yang zalim, pedagang yang menipu, atau orang yang mempertontonkan maksiat.

“Ketika pejabat tidak lagi malu mengkhianati amanah, hakim tidak malu memutuskan perkara secara zalim, pedagang tidak malu menipu, atau seseorang tidak malu mempertontonkan maksiatnya, sesungguhnya yang sedang memudar bukan sekadar etika, melainkan cahaya iman di dalam hati.”

Khutbah ini menekankan perlunya membentengi diri dengan ilmu, ibadah, dan lingkungan yang meneguhkan fitrah agar rasa malu tetap menjadi penahan diri dan pemelihara martabat manusia.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait