Prabowonomics: Dorong Kemandirian Ekonomi Nasional
Prabowonomics menjadi gagasan yang diusung Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong kemandirian perekonomian nasional dan masyarakat. Istilah ini dipopulerkan saat peringatan Harlah PKB ke-28 di Jakarta Convention Center pada 23 Juli 2026, dan mendapat respons positif dari Ketua Harian DPP Partai Ummat, Heikal Safar, dalam pernyataan tertulis pada 25 Juli 2026.
Gagasan dan landasan konstitusional
Prabowonomics berpijak pada UUD 1945, terutama Pasal 33 dan Pasal 34, yang menegaskan peran negara dalam pengelolaan sumber daya alam dan kesejahteraan sosial. Konsep ini menegaskan kembali prinsip bahwa kekayaan negara harus dikelola untuk kemakmuran seluruh rakyat.
Dalam peringatan Harlah, gagasan ini juga dikaitkan dengan program Asta Cita yang diperkenalkan Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar, sehingga mendapat perhatian lebih luas dari kalangan politik.
Respons Partai Ummat dan tokoh politik
Heikal Safar menyambut baik inisiatif tersebut dan menilai Prabowonomics dapat menjadi landasan kebijakan terukur untuk mendorong pertumbuhan dari lapisan bawah masyarakat. Ia menekankan perlunya pengelolaan kekayaan alam yang memberi manfaat bagi semua warga negara.
"Bumi dan tanah air Indonesia sangatlah kaya raya. Oleh karenanya wajib dikelola dengan baik, sehingga hasil keuntungannya juga dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia,"
Heikal juga menyoroti kehadiran tokoh nasional, menteri Kabinet Merah Putih, serta pimpinan partai politik di acara itu sebagai indikator kekompakan dan peluang kerja sama lintas kekuatan politik.
Implikasi kebijakan
Konsep Prabowonomics menempatkan negara pada peran yang aktif dalam memberikan stimulus ekonomi, perlindungan sosial, dan investasi pada sumber daya manusia. Pendekatan ini bukan klaim gagasan baru, melainkan penegasan pelaksanaan asas-asas dasar negara dan pemikiran ekonomi nasional, termasuk warisan pemikiran Soemitro Djojohadikusumo.
Heikal mengajak publik melihat siapa yang selama ini menikmati penguasaan kekayaan alam, sebagai langkah awal menegakkan keadilan dan menolak praktik yang dianggap menzalimi rakyat.
"Siapakah pihak-pihak yang paling menikmati dan menguasai kekayaan alam Indonesia secara utuh. Jika sudah tahu jawabannya, maka seluruh rakyat Indonesia wajib bersatu padu tegakkan keadilan dan lawan kedzaliman,"
Prospek dan tantangan
Prabowonomics membuka ruang bagi dialog politik dan kerja sama kebijakan yang lebih luas. Namun implementasi yang efektif memerlukan komunikasi yang baik antar-pemangku kepentingan, kebijakan terukur, serta mekanisme pengelolaan sumber daya yang transparan.
Jika dijalankan konsisten sesuai amanat konstitusi, gagasan ini berpotensi mendorong pertumbuhan yang tumbuh dari basis masyarakat bawah sekaligus memperkuat perlindungan sosial dan investasi manusia.
Secara ringkas, Prabowonomics menegaskan peran negara dalam mengelola sumber daya demi kesejahteraan kolektif dan menuntut kolaborasi politik untuk mewujudkannya.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Tiga Taman Nasional Dapat Status PPK-BLU, Kelola Pendapatan Sendiri
Tiga taman nasional—Bromo Tengger Semeru, Komodo, dan Rinjani—resmi berstatus PPK-BLU untuk kelola pendapata...
Menbud Ajak Anak Lestarikan Permainan Tradisional di Hari Anak
Menbud Fadli Zon mengajak anak melestarikan permainan tradisional saat Festival Generasi Berani untuk kurang...
Prabowo 'Gercep' Revitalisasi SDN Tanggirejo, 131 Siswa Terlayani
Revitalisasi SDN Tanggirejo di Grobogan dimulai 25 Juli 2026; perbaikan menyasar atap, ruang kelas, perpusta...
BULOG Optimis Capai Target 4 Juta Ton Beras
BULOG mencatat pengadaan setara beras 3,5 juta ton hingga 24 Juli 2026; optimistis target 4 juta ton segera...
KUII 2026: Lodewijk Paulus Tegaskan Politik Adalah Ibadah
Lodewijk F. Paulus menyatakan politik sebagai pengabdian, bukan jalan kekuasaan, saat berbicara di KUII VIII...
Wamenko Polkam: Peran PBB dalam Konflik Palestina Belum Optimal
Wamenko Polkam Lodewijk Paulus menilai peran PBB dalam penyelesaian konflik Palestina belum optimal; Indones...