Pola Cuaca Bergeser, Prakiraan Makin Sulit Akibat Pemanasan Global
Guru Besar UGM dan pakar mitigasi bencana Dwikorita Karnawati menyatakan pola cuaca global kini bergeser, membuat prakiraan cuaca lebih sulit dibanding beberapa dekade lalu. Pernyataan itu disampaikan dalam dialog di Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026. Menurutnya, pemanasan global mengacaukan pola cuaca historis dan mempercepat siklus hidrologi, sehingga kejadian cuaca ekstrem tambah sering.
Percepatan siklus hidrologi
Dwikorita menjelaskan kenaikan suhu rata-rata bumi mengganggu stabilitas atmosfer. Gangguan ini memengaruhi proses pembentukan awan dan hujan, sehingga siklus hidrologi menjadi lebih cepat dan berubah pola.
"Jadi pemanasan global ini dampak dari meningkatnya suhu rata-rata bumi yang mengganggu stabilitas atmosfer. Dan gangguan ini juga berdampak pada semakin cepatnya atau terganggunya siklus hidrologi,"
Akibat percepatan tersebut, pola pembentukan hujan tidak lagi mengikuti siklus historis yang selama ini menjadi acuan peramalan.
Frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem meningkat
Perubahan siklus hidrologi turut memicu lonjakan kejadian ekstrem basah dan ekstrem kering secara bersamaan. Dwikorita menyebut frekuensi peristiwa ekstrem kini lebih tinggi, dengan durasi dan intensitas yang juga meningkat.
"Berdampak pada kejadian kondisi ekstrim cuaca ekstrim, baik ekstrim basah, ekstrim kering kejadian ekstrim menjadi semakin sering. Dan intensitas ekstremitasnya juga semakin meningkat dan durasinya semakin panjang,"
Dengan kata lain, wilayah yang sebelumnya aman dari banjir atau kekeringan kini bisa mengalami kedua kondisi ekstrem dalam rentang waktu yang lebih singkat.
Tantangan prakiraan dan mitigasi
Perubahan pola historis membuat model prakiraan berbasis data lampau kurang andal. Ini menuntut penyesuaian metode pemantauan, peningkatan data observasi, dan pemodelan yang lebih adaptif terhadap kondisi nonlinier akibat perubahan iklim.
Selain itu, peningkatan kejadian ekstrem memperbesar kebutuhan investasi pada sistem peringatan dini, infrastruktur tahan bencana, dan upaya mitigasi yang terintegrasi antara pemerintah dan masyarakat.
Perubahan ini menandai kebutuhan mendesak untuk memperkuat kapasitas pemantauan cuaca dan kesiapsiagaan bencana, agar dampak sosial dan ekonomi dari cuaca ekstrem dapat diminimalkan secara lebih efektif.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Menaker Yassierli: Pemimpin Muda Berjiwa Inovatif untuk Indonesia 2045
Menaker Yassierli mengajak generasi muda kembangkan growth mindset dan inovasi saat Tanoto Scholars Gatherin...
Tanoto Foundation Perkuat Kepemimpinan Mahasiswa lewat TSG 2026
Tanoto Foundation mengadakan TSG 2026 di Pangkalan Kerinci (23–25 Juli) diikuti 240 penerima beasiswa TELADA...
THEFI 2026 Buka Peluang Beasiswa S1–S3 di Taiwan
THEFI 2026 digelar 1–9 Agustus di lima kota; 65 universitas Taiwan tawarkan beasiswa S1–S3 dan layanan konsu...
KPPU Rampungkan Investigasi TikTok Shop–Tokopedia, Menuju Sidang
KPPU menyelesaikan penyidikan dugaan praktik monopoli TikTok Shop–Tokopedia dan akan segera melanjutkan kasu...
MK: Operator Dilarang Hanguskan Kuota Pelanggan
MK memutuskan operator tidak boleh menghapus kuota tak terpakai dan harus menyediakan mekanisme seperti roll...
Indonesia Gaet Investor China untuk Percepat Investasi Data Center
Indonesia mengundang investor China untuk menanam modal di sektor data center yang tumbuh pesat, didukung in...