Polmed Bantu Peternak Banyumas Olah Kotoran Jadi Pupuk Organik
Politeknik Negeri Medan (Polmed) menggelar kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Desa Banyumas, Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, pada Sabtu (10/10). Kegiatan ini bertujuan mengolah kotoran sapi menjadi pupuk organik padat, mengurangi limbah peternakan, dan meningkatkan pendapatan warga setempat.
Program dipimpin oleh Pina Budiarti Pratiwi, S.Pd., M.Si., dengan anggota tim dosen Dikki Miswanda, S.Pd., M.Sc., Ayu Syufiatun Br Tarigan, S.Si., M.Si., Adelia Yesya Putri Hasibuan, M.Si., dan Sulwiyatul Kamariyah Sani, S.Si., M.Sc. Mahasiswa Polmed juga terlibat langsung selama pelaksanaan di lapangan.
Latar masalah: nilai jual limbah rendah
Kelompok mitra peternak di Desa Banyumas selama ini menjual kotoran sapi mentah atau memanfaatkannya tanpa pengolahan. Akibatnya, nilai ekonominya rendah dan peluang tambahan pendapatan terbuang.
Selain itu, peternak memiliki keterbatasan pengetahuan teknis dan belum tersedia fasilitas teknologi tepat guna untuk mengolah limbah menjadi produk bernilai tambah. Kondisi ini membuat potensi ekonomi dari kotoran ternak belum optimal.
Tiga solusi terpadu dan hibah mesin
Tim PKM menerapkan tiga langkah strategis yang terintegrasi untuk mengatasi masalah tersebut:
- Penyuluhan mengenai manajemen limbah peternakan yang ramah lingkungan dan potensi pasar pupuk organik.
- Pelatihan praktik atau hands-on pembuatan pupuk organik padat berbasis kotoran sapi, meliputi pencacahan bahan, pencampuran bioaktivator, dan proses fermentasi.
- Penyerahan teknologi tepat guna berupa satu unit mesin pencacah bahan organik (chopper) kepada perwakilan kelompok peternak.
Dalam sesi praktik, tim dosen dan mahasiswa memandu peternak meracik bahan organik yang telah dicacah, memakai bioaktivator sebagai dekomposer, dan melakukan fermentasi di atas terpal sampai produk siap dijadikan pupuk padat.
"Melalui program PKM ini, kami ingin mengubah cara pandang masyarakat bahwa kotoran sapi bukanlah sekadar limbah yang mencemari lingkungan, melainkan sumber daya yang sangat potensial. Dengan sentuhan teknologi tepat guna berupa mesin pencacah dan teknik fermentasi yang benar, peternak di Desa Banyumas kini dapat memproduksi pupuk organik padat secara mandiri dengan nilai jual yang jauh lebih menguntungkan," ujar Ketua Tim Pelaksana PKM, Pina Budiarti Pratiwi, S.Pd., M.Si.
Dampak dan harapan keberlanjutan
Antusiasme peternak terlihat dari partisipasi aktif pada seluruh rangkaian kegiatan, mulai pemaparan materi hingga uji coba mesin pencacah. Dengan keterampilan baru dan hibah mesin, kapasitas produksi pupuk diperkirakan meningkat signifikan.
Program ini diharapkan membuka peluang peningkatan pendapatan keluarga peternak serta mendorong terciptanya ekosistem peternakan dan pertanian yang lebih berkelanjutan di Kabupaten Langkat.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
FPRMI Aceh 2026-2029 Dilantik, 18 Pengurus Resmi Menjabat
18 pengurus FPRMI Aceh periode 2026–2029 dilantik di Banda Aceh; wakil wali kota minta profesionalisme dan s...
MKKS SMP Wilayah V Latih Guru Pakai Papan Interaktif Digital
MKKS SMP Wilayah V menggelar pelatihan Papan Interaktif Digital di SMPN 1 Darussalam untuk tingkatkan kompet...
Gerakan Pangan Murah Aceh Besar: Paket Sembako Rp178.000
Pemkab Aceh Besar gelar Gerakan Pangan Murah 14 Okt di Lamceu untuk stabilkan harga pangan dan bantu daya be...
BRIN Survei di Sergai Perkuat Kelembagaan Ekonomi Petani
BRIN menggelar survei dan DGT di Sergai (14/10) untuk memperkuat kelembagaan ekonomi petani dan mendukung ke...
Polsek Siantar Martoba Sosialisasi Anti-Bullying di SDN 124387
Polsek Siantar Martoba sosialisasi pencegahan bullying untuk siswa SDN 124387 pada 13 Oktober, menekankan la...
Pemkab Taput Relokasi Pedagang Tanggul Aek Sigeaon
Pemkab Taput dan pedagang Tanggul Aek Sigeaon sepakat relokasi untuk penataan dan mitigasi bencana; tenggat...