Pertamina Lubricants Catat Ekspor Pelumas 11.000 KL per Tahun
PT Pertamina Lubricants mencatat volume ekspor pelumas sebesar 11.000 kiloliter (KL) per tahun atau sekitar 3% dari total penjualan perusahaan. Capaian ini diungkap saat kunjungan ke Production Unit Jakarta di Koja pada Selasa, 12 Agustus 2026, sebagai bagian dari upaya memperluas pasar global dan memperkuat daya saing.
Ekspor, pangsa pasar, dan tantangan
Manajemen menyatakan ekspor menjadi strategi penting untuk menembus pasar internasional. Namun sektor pelumas menghadapi persaingan ketat karena tidak ada regulasi harga seperti pada produk minyak bakar.
"Pertamina itu punya bisnis yang enggak sekedar itu aja. Salah satunya adalah lubricants atau pelumas atau oli,"
Corporate Secretary PT Pertamina Lubricants, Rika Gresia Wahyudi, menjelaskan bahwa perusahaan terus memperkuat standar mutu agar produk dapat bersaing di pasar ekspor. Ia menegaskan bahwa proporsi ekspor masih relatif kecil, sekitar tiga persen dari penjualan pelumas.
Unit produksi dan kapasitas
Perusahaan mengoperasikan beberapa fasilitas produksi dengan fungsi berbeda. Unit utama memiliki kapasitas jauh lebih besar, sementara unit di Jakarta difokuskan untuk mendukung kebutuhan ekspor dengan penyesuaian kemasan internasional.
| Fasilitas | Kapasitas (KL) | Keterangan |
|---|---|---|
| Production Unit utama (LUBP) | 270.000 | Kapastias pabrik skala besar |
| Production Unit Jakarta (Koja) | 3.000 | Mini plant untuk produk ekspor dan kemasan khusus |
| Production Unit Thailand (Ayutthaya) | 60.000 | Fasilitas hasil akuisisi 2015 untuk pasar regional |
| Total ekspor tahunan | 11.000 | Setara ~3% dari penjualan pelumas |
Manager Production Unit Jakarta, Dody Arief Aditya, menerangkan alasan dibangunnya mini plant. Menurutnya, kapasitas kecil memungkinkan penyesuaian kemasan internasional dengan biaya lebih efisien dan mendukung pengiriman ke pasar baru.
"Ya, karena plant ini sebenarnya difokuskan untuk mensupport produk-produk yang kita ekspor,"
Ekspansi pasar dan pasokan bahan baku
Perusahaan juga memiliki fasilitas di Thailand sebagai basis produksi regional. Dody menyebut pabrik di Ayutthaya yang diakuisisi pada 2015 memiliki kapasitas sekitar 60.000 KL. Keberadaan fasilitas di luar negeri diharap mempercepat distribusi regional.
Manajemen menargetkan penetrasi pasar baru, termasuk Afrika, sambil terus memantau peluang ekspansi lain. Dukungan pasokan bahan baku dari kilang domestik menjadi salah satu kunci untuk menjaga kontinuitas produksi dan meredam dampak geopolitik.
"Apakah kita ada rencana? Iya. Tentunya semua pasar kita jajakin,"
Dengan memperkuat standar mutu, mengoptimalkan kapasitas produksi, dan menjaga pasokan bahan baku, perusahaan berharap dapat meningkatkan porsi ekspor dan memperluas jangkauan pelumas ke pasar global.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Pertamina Lubricants Otomasi Blending Pelumas di Jakarta Utara
Pertamina Lubricants menerapkan otomasi penuh di PUJ Koja pada 12 Agustus 2026 untuk meningkatkan kualitas,...
Pertamina Lubricants Dampingi Kampung Cemara Olah 3 Ton Sampah
PT Pertamina Lubricants mendampingi Kampung Cemara mengolah tiga ton sampah organik per bulan menjadi pakan...
BPDLH Salurkan Rp253,1 Miliar untuk 10 Provinsi Dukung RBP REDD+ GCF
BPDLH menyalurkan Rp253,1 miliar untuk 10 provinsi dalam skema RBP REDD+ GCF Output 2 guna mempercepat pengu...
Kemendag dan Shopee Luncurkan Akselerasi Produk Lokal untuk UMKM
Kemendag dan Shopee meluncurkan Program Akselerasi Produk Lokal pada 13 Agustus 2026 untuk memperluas akses...
IHSG Melemah 1,18% Saat Jeda Siang, Investor Tunggu Pidato Presiden
IHSG turun 1,18% ke level 6.298,34 pada jeda siang 13 Agustus 2026; investor menunggu pidato kenegaraan soal...
LPDB Siapkan Pembiayaan untuk Hilirisasi Sawit Berbasis Koperasi
LPDB siap membiayai hilirisasi sawit berbasis koperasi; dukungan mencakup dana bergulir, pendampingan, dan d...