Lokal

Peringatan ke-79 Berandan Bumi Hangus di Pangkalan Brandan

Bagikan:
Peringatan ke-79 Berandan Bumi Hangus di Lapangan Petrolia Pangkalan Brandan

Pelaksana Tugas Bupati Langkat, Tiorita Br. Surbakti, SH, mengajak masyarakat menghidupkan semangat pahlawan saat memperingati ke-79 Peristiwa Berandan Bumi Hangus di Lapangan Petrolia, Pangkalan Brandan, Kecamatan Babalan, Rabu, 13 Agustus 2026. Acara itu berlangsung meriah dan dihadiri ribuan warga sejak pagi sebagai wujud penghormatan terhadap perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Rangkaian kegiatan selama tiga hari

Sekretaris Daerah Kabupaten Langkat, Amril, S.Sos., M.AP., mengatakan penyelenggaraan tahun ini dibuat berbeda atas kebijakan Plt. Bupati. Kegiatan dilakukan selama tiga hari, mulai 11 hingga 13 Agustus 2026. Tujuannya untuk memperkaya rangkaian peringatan dan melibatkan berbagai lapisan masyarakat.

Rangkaian acara menghadirkan keragaman kegiatan yang diikuti puluhan kelompok dan komunitas setempat. Pelepasan pawai dilepas langsung oleh Plt. Bupati dan diikuti berbagai peserta dari anak-anak hingga purna Paskibraka.

  • Pelepasan pawai tapak tilas, Paskibraka kecamatan, purna Paskibraka, anak-anak TK, dan drumband;
  • Pameran expo dan kegiatan IKM;
  • Lomba lagu perjuangan, lomba napak tilas, malam keakraban, dan temu tokoh pejuang;
  • Penghargaan bagi pemrakarsa, tokoh, dan keluarga pendukung Berandan Bumi Hangus;
  • Drama kolosal kilas balik perjuangan dan pameran UMKM sebagai penutup.

"Rangkaian kegiatannya mulai dari pameran expo dan IKM, lomba lagu perjuangan, lomba napak tilas, malam keakraban dan temu tokoh pejuang hingga acara puncak Peringatan Berandan Bumi Hangus,"

Sejarah singkat Peristiwa Berandan Bumi Hangus

Peristiwa Berandan Bumi Hangus tercatat sebagai momen penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Kabupaten Langkat. Kejadian bermula saat invasi pasukan Sekutu bersama Belanda sekitar 1947 yang menyerang beberapa wilayah termasuk Stabat, Tanjung Pura, dan Gebang.

Untuk mencegah penguasaan sumber daya strategis, masyarakat dan pejuang Pangkalan Brandan memutuskan membumihanguskan instalasi minyak. Pada sekitar pukul 03.00 dini hari, 13 Agustus 1947, tanki besar, fondasi penyulingan, dan gedung perusahaan tambang diledakkan dan kawasan itu dilalap api.

Seruan pemimpin dan pesan tokoh

Di hadapan ribuan warga, Plt. Bupati Tiorita mengingatkan kembali keberanian para pendahulu dan menyerukan semangat kebangsaan. Ia mengajak masyarakat meneruskan perjuangan melalui pengabdian sesuai tugas masing-masing.

"Merdeka, Merdeka, Merdeka!"

"Mari kita lanjutkan perjuangan tersebut dengan semangat yang sama sesuai tugas kita masing-masing,"

Mewakili Gubernur Sumatera Utara, Asisten Pemerintahan Drs. Basarin Yunus Tanjung menegaskan nilai-nilai perjuangan harus diterapkan pada pembangunan masa kini, termasuk pendidikan, pelayanan publik, dan penguatan ekonomi.

"Nilai semangat perjuangan ini harus diterapkan ke zaman sekarang dengan meningkatkan semangat dalam pendidikan, pembangunan, pelayanan kepada masyarakat serta meningkatkan perekonomian,"

Kapolres setempat, AKBP Hannry P. H. Tambunan, menekankan pentingnya memperkuat persatuan sebagai wujud penghormatan terhadap peristiwa bersejarah itu.

"Semangat pantang menyerah dan kegigihan para pejuang di Bumi Langkat telah membuahkan hasil mengusir penjajah, dan semangat ini harus terus bergelora untuk masyarakat Langkat,"

Penutup: momentum penguatan persatuan

Puncak peringatan ditutup dengan drama kolosal diikuti ratusan pelajar dan prajurit Marinir Yonif 8 Harimau Putih, serta rangkaian expo dan penghargaan untuk veteran. Peringatan ke-79 ini menjadi momentum bagi pemerintahan dan masyarakat Langkat untuk memperkuat persatuan dan meneruskan pengabdian demi kemajuan daerah.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait