Bappenas Dorong Peremajaan Kebun untuk Dukung Hilirisasi Kelapa
Kementerian PPN/Bappenas mendorong percepatan peremajaan kebun dan penyediaan benih unggul bersertifikat sebagai langkah awal keberhasilan hilirisasi kelapa nasional. Pernyataan itu disampaikan oleh Ketua Satgas Percepatan Hilirisasi Kelapa, Sukmo Harsono, pada Selasa, 14 Juli 2026, sebagai respons atas meningkatnya permintaan kelapa global dan kondisi perkebunan dalam negeri yang menghadapi banyak tantangan.
Peremajaan kebun sebagai prioritas
Bappenas menilai penguatan sektor hulu menjadi syarat mutlak untuk mendukung pengembangan industri pengolahan kelapa. Saat ini sekitar 5,3 juta petani bergantung pada komoditas kelapa, namun sebagian besar kebun dikelola secara tradisional dan menunjukkan produktivitas menurun akibat usia tanaman dan berkurangnya lahan produktif.
Tantangan benih unggul
Salah satu hambatan utama program peremajaan adalah ketersediaan benih unggul bersertifikat yang belum mencukupi kebutuhan replanting dalam skala besar. Menurut Sukmo, bila replanting dilakukan tanpa bibit yang jelas varietas dan asal-usulnya, hasil panen lima sampai enam tahun ke depan berisiko tidak memenuhi harapan.
Ketika permintaan kelapa dunia meningkat sangat tinggi, kita justru dihadapkan pada kenyataan bahwa sebagian besar perkebunan kelapa kita sudah tua, banyak yang rusak akibat abrasi, dan minat masyarakat untuk menanam kembali masih rendah.
Kalau replanting dilakukan tanpa menggunakan bibit unggulan yang jelas varietas dan asal-usulnya. Maka lima sampai enam tahun ke depan hasil panennya tidak akan sesuai harapan.
Hilirisasi dan produk bernilai tambah
Bappenas menekankan bahwa hilirisasi tidak hanya soal membangun pabrik atau fasilitas pengolahan. Pembenahan perkebunan sebagai fondasi akan membuka peluang pengembangan berbagai produk turunan bernilai tambah yang lebih kompetitif di pasar internasional.
- Minyak kelapa
- Air kelapa (coconut water)
- Santan
- Kelapa parut kering
- Bahan baku industri pangan dan nonpangan
Peta Jalan Hilirisasi 2025–2045
Untuk memberi arah kebijakan, Bappenas telah menyusun Peta Jalan Hilirisasi Kelapa 2025–2045. Dokumen ini dimaksudkan sebagai acuan bagi kementerian, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan petani dalam mempercepat peremajaan kebun, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat nilai tambah komoditas kelapa.
Dampak yang diharapkan
Melalui upaya terkoordinasi antara peremajaan kebun dan pengembangan hilirisasi, pemerintah berharap produktivitas perkebunan meningkat, kesejahteraan petani naik, serta daya saing industri kelapa Indonesia di pasar global menguat. Langkah riil berikutnya akan bergantung pada ketersediaan benih unggul, kebijakan insentif untuk replanting, dan sinergi antar-pemangku kepentingan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Fahira Idris Dorong Investor Ikut 37 Proyek Strategis Jakarta
Fahira Idris mendorong investor lokal dan global ikut 37 proyek strategis bernilai indikatif Rp115 triliun l...
Fadli Zon Sayangkan Perusakan Fasum saat Demo di Jakarta
Fadli Zon menghargai hak berpendapat, namun menyayangkan perusakan fasilitas umum saat demo di Jakarta; DPR...
Prabowo Perintahkan Revitalisasi Desa Adat Sade Pasca Kebakaran
Presiden Prabowo memerintahkan revitalisasi Desa Adat Sade pasca kebakaran; pemerintah menyusun rencana pemu...
Prabowo Tinjau Hunian Relokasi Eks Bantaran Rel di Kramat Jati
Presiden Prabowo mengunjungi mendadak hunian relokasi eks bantaran rel di Kramat Jati untuk meninjau kondisi...
Menbud: Rekonstruksi Desa Adat Sade Harus Tahan Bencana
Menbud Fadli Zon: pemerintah susun rekonstruksi Desa Adat Sade pasca kebakaran 22 Agustus 2026 dengan fokus...
Pemerintah Siapkan Beasiswa untuk Mahasiswa Terdampak Gempa NTT
Pemerintah menyiapkan beasiswa satu semester bagi sekitar 4.000-5.000 mahasiswa terdampak gempa Magnitudo 7....