Tata Kelola Pemerintahan Dinilai Masih Perlu Banyak Perbaikan
Ketua Komisi II DPR RI, Rifqinizamy Karsayuda, menilai tata kelola pemerintahan di Indonesia masih memerlukan perbaikan signifikan. Pernyataan itu disampaikan saat Entry Meeting Opini Ombudsman RI: Penilaian Maladministrasi Pelayanan Publik Tahun 2026 di Jakarta, Selasa, 14 Juli 2026.
Penilaian berdasarkan indeks internasional
Rifqinizamy mengutip sejumlah indikator internasional yang menunjukkan kualitas pelayanan publik dan efektivitas pemerintahan nasional belum optimal. Indonesia berada pada peringkat ke-47 dari 120 negara menurut Chandler Good Government Index 2025.
Lebih lanjut, pada Government Effectiveness Index 2024 Indonesia menempati posisi ke-82 dari 193 negara. Dalam Corruption Perceptions Index, negara ini berada di peringkat ke-109 dengan skor 34 dari skala 0 hingga 100.
Pengawasan berlapis namun belum cukup
Rifqinizamy mencatat semakin banyak lembaga yang menjalankan fungsi pengawasan. Selain Ombudsman RI, ada Badan Pemeriksa Keuangan, Kejaksaan Agung, hingga lembaga pengawas penyelenggaraan pemilu.
Meski pengawasan bersifat berlapis, menurut dia hal itu belum sepenuhnya meningkatkan mutu tata kelola. Perbaikan dinilai berjalan lambat meski ada hasil positif dari berbagai upaya yang dilakukan pemerintah.
"Ini menunjukkan bahwa ikhtiar kita yang kita lakukan selama ini bukan berarti tidak menunjukkan hasil yang positif. Tetapi perbaikannya berjalan cukup perlahan dan itu sangat mengkhawatirkan bagi kita semua,"
Peran Ombudsman dalam penilaian pelayanan publik
Wakil Ketua Ombudsman RI, Rahmadi Indra Tektona, menyatakan lembaganya akan menyusun gambaran menyeluruh tentang kondisi pelayanan publik melalui opini yang dihasilkan.
Menurut Rahmadi, opini tersebut juga memuat rekomendasi perbaikan yang dapat ditindaklanjuti oleh kementerian, lembaga, BUMN, BUMD, dan perguruan tinggi negeri. Entry meeting berfungsi untuk menjelaskan tujuan, ruang lingkup, metodologi, dan mekanisme penilaian tahun 2026.
Rahmadi menekankan bahwa kolaborasi dan keterbukaan informasi penting agar penilaian tidak hanya berorientasi pada kepatuhan administratif. Tujuannya adalah menghasilkan rekomendasi yang memberi dampak nyata pada peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Implikasi dan langkah selanjutnya
Data indeks internasional dan masukan dari Ombudsman menegaskan perlunya percepatan reformasi tata kelola. Pemerintah dan lembaga pengawas diharapkan memperkuat koordinasi serta menerapkan rekomendasi secara konsisten.
Pengukuran dan evaluasi berkala diharapkan mendorong perbaikan yang lebih cepat dan terukur bagi kualitas pelayanan publik di Indonesia.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Fadli Zon Sayangkan Perusakan Fasum saat Demo di Jakarta
Fadli Zon menghargai hak berpendapat, namun menyayangkan perusakan fasilitas umum saat demo di Jakarta; DPR...
Prabowo Perintahkan Revitalisasi Desa Adat Sade Pasca Kebakaran
Presiden Prabowo memerintahkan revitalisasi Desa Adat Sade pasca kebakaran; pemerintah menyusun rencana pemu...
Prabowo Tinjau Hunian Relokasi Eks Bantaran Rel di Kramat Jati
Presiden Prabowo mengunjungi mendadak hunian relokasi eks bantaran rel di Kramat Jati untuk meninjau kondisi...
Menbud: Rekonstruksi Desa Adat Sade Harus Tahan Bencana
Menbud Fadli Zon: pemerintah susun rekonstruksi Desa Adat Sade pasca kebakaran 22 Agustus 2026 dengan fokus...
Pemerintah Siapkan Beasiswa untuk Mahasiswa Terdampak Gempa NTT
Pemerintah menyiapkan beasiswa satu semester bagi sekitar 4.000-5.000 mahasiswa terdampak gempa Magnitudo 7....
Kemenkes Perkuat Logistik Kesehatan Hadapi Karhutla di 7 Provinsi
Kemenkes memperkuat distribusi masker, konsentrator oksigen, dan layanan kesehatan untuk merespons karhutla...