Kementerian PKP Kaji Penyesuaian Harga Rumah Subsidi Akibat Biaya Konstruksi Naik
Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) sedang mengkaji kemungkinan penyesuaian harga rumah subsidi menyusul kenaikan biaya konstruksi dan harga material bangunan. Pembahasan berlangsung bersama asosiasi pengembang dan melibatkan sektor perbankan, dengan pertimbangan utama menjaga keterjangkauan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Diskusi ini disebut berlangsung pada Minggu, 14 Juni 2026.
Kaji penyesuaian dan proses pembahasan
Direktur Jenderal Perumahan Perkotaan, Sri Haryati, menyatakan pemerintah belum mengambil keputusan final karena masih menghitung dampak kenaikan biaya pembangunan terhadap skema rumah subsidi. Kajian mencakup evaluasi harga, kualitas bangunan, dan skema pembiayaan agar cicilan tetap terjangkau.
"Saat ini bersama para ketua asosiasi kami masih berdiskusi," ujarnya. "Ini karena memang sedang terjadi kenaikan harga konstruksi."
Faktor pemicu: material dan upah
Kenaikan biaya konstruksi terjadi karena beberapa komponen material mengalami lonjakan harga. Kenaikan ini turut diperparah oleh biaya tenaga kerja yang juga meningkat dalam beberapa periode terakhir.
- Baja ringan
- Besi beton
- Semen
- Keramik
- Kabel listrik
- Biaya tenaga kerja konstruksi
Pertimbangan utama: daya beli dan kualitas
Sri Haryati menegaskan prioritas pemerintah adalah menjaga akses MBR terhadap hunian layak. Oleh sebab itu, setiap opsi penyesuaian harga akan mempertimbangkan kemampuan mencicil calon pembeli dan target program perumahan nasional.
"Kami ingin memastikan jika penyesuaian harga dilakukan, harus diikuti dengan kualitas hunian yang lebih baik," ujar Sri.
Koordinasi dengan perbankan dan pengembang
Pembahasan juga melibatkan lembaga perbankan untuk menelaah skema pembiayaan yang dapat meredam dampak kenaikan harga bagi konsumen. Pemerintah ingin memastikan skema kredit dan subsidi masih relevan dan memberi perlindungan bagi MBR.
Dampak dan langkah selanjutnya
Jika penyesuaian harga diputuskan, pemerintah berkomitmen menjaga keseimbangan antara keberlanjutan proyek perumahan dan keterjangkauan. Evaluasi lebih lanjut akan mencakup analisis biaya riil pembangunan dan rekomendasi kebijakan dari asosiasi pengembang dan perbankan.
Peninjauan ini penting untuk memastikan Program Tiga Juta Rumah tetap berjalan sesuai target tanpa mengorbankan kualitas atau akses bagi kelompok berpenghasilan rendah.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
IHSG Ditutup 6.036,89 pada 2 Okt 2026, Mayoritas Saham Melemah
IHSG ditutup di 6.036,89 pada 2 Okt 2026, turun 0,46%; mayoritas saham melemah dengan transaksi Rp11,79 tril...
IHSG Turun 0,32% ke 5.990 pada Jeda Perdagangan 2 Okt
IHSG sesi I turun 0,32% ke 5.990,20 pada 2 Oktober 2026. Volume tinggi dan tekanan jual mendominasi meski be...
IHSG Dibuka Menguat 0,14% ke 6.018,08, Sentimen Minyak & Inflasi Jadi Perhatian
IHSG dibuka menguat 0,14% ke 6.018,08 pada 2 Oktober 2026; sentimen minyak, inflasi, dan ketegangan geopolit...
Rupiah Menguat Dibuka, Risiko Tekanan dari Kenaikan Harga Minyak
Rupiah dibuka menguat ke Rp17.910 per dolar, namun berisiko melemah karena kenaikan harga minyak dan ketegan...
IHSG Diperkirakan Melemah, Pasar Cermati Laju Inflasi
IHSG diperkirakan melemah dan menguji level 6.000 di tengah aksi jual asing serta kenaikan inflasi September...
DJP Percepat Pemungutan PPh 22 melalui Empat Lokapasar
DJP mempercepat pemungutan PPh Pasal 22 melalui lokapasar mulai 1 Oktober 2026; empat platform ditunjuk dan...