Indef: Garis Kemiskinan BPS Perlu Disesuaikan
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, menyatakan pada Jumat, 4 September 2026 bahwa garis kemiskinan BPS masih terlalu rendah dan perlu disesuaikan dengan rata-rata pendapatan per kapita. Ia mengatakan penyesuaian itu penting agar biaya hidup dan kondisi kesejahteraan masyarakat miskin tergambar lebih realistis. Esther juga mendorong penciptaan pekerjaan produktif dan pembaruan data penerima bantuan untuk meningkatkan efektivitas kebijakan pengentasan kemiskinan.
Standar garis kemiskinan dan realita lapangan
Esther menilai angka kemiskinan resmi kerap tidak mencerminkan kondisi riil daya beli masyarakat. Menurutnya, standar yang digunakan masih terlalu rendah untuk menggambarkan biaya hidup saat ini. Kondisi pasar tenaga kerja seperti gelombang PHK dan antrean panjang pencari kerja ikut memperkuat kecocokan ulang metode pengukuran tersebut.
“Garis kemiskinan BPS masih rendah sehingga perlu disesuaikan dengan rata-rata pendapatan per kapita masyarakat Indonesia kini,”
Kritik terhadap efektivitas bantuan sosial
Esther menyorot bahwa bantuan sosial belum efektif mengentaskan kemiskinan. Ia menyebut penurunan angka kemiskinan relatif kecil bila dibandingkan dengan besarnya anggaran yang dikeluarkan pemerintah. Untuk itu, ia menekankan perlunya fokus pada program yang menciptakan sumber pendapatan berkelanjutan, bukan sekadar transfer sementara.
Aspek multidimensi kemiskinan
Menurut Esther, kategori penduduk miskin yang hanya dilihat dari pendapatan seringkali belum menangkap seluruh dimensi kemiskinan. Ia menyebut aspek pendidikan, sanitasi, kesehatan, dan kualitas hunian sebagai bagian penting yang menentukan kesejahteraan keluarga miskin.
“Dengan pendidikan lebih tinggi, anak keluarga miskin memiliki peluang memperoleh pekerjaan lebih baik dan meningkatkan pendapatan keluarganya,”
Rekomendasi kebijakan
Untuk memperbaiki pencapaian pengentasan kemiskinan, Esther mengusulkan beberapa langkah yang saling melengkapi:
- Penyesuaian standar garis kemiskinan sesuai rata-rata pendapatan per kapita dan biaya hidup terkini.
- Penciptaan pekerjaan produktif untuk memberikan sumber pendapatan jangka panjang bagi keluarga miskin.
- Pembaruan dan integrasi data penerima bantuan secara berkala agar penyaluran tepat sasaran.
- Investasi pada pendidikan dan peningkatan keterampilan untuk memutus siklus kemiskinan antar generasi.
Esther mengingatkan bahwa tanpa penyesuaian metodologi pengukuran dan perbaikan program lapangan, angka kemiskinan resmi berisiko terus berbeda jauh dari kondisi nyata. Perbaikan data dan strategi yang menitikberatkan pada kesempatan kerja produktif dinilai kunci untuk meningkatkan kesejahteraan secara berkelanjutan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...