Politik

Pengolahan Tembakau Tuban Serap Puluhan Pekerja dan Jamin Pasar

Bagikan:
Gudang pengolahan tembakau di Senori, Tuban yang menyerap tenaga kerja lokal

Tuban — Sekretaris PAC PDI Perjuangan Kecamatan Senori, Busono, membuka usaha pengolahan tembakau sejak 2023 untuk mendorong ekonomi lokal dan memastikan kepastian pasar bagi petani. Berawal dari pengalaman kerja di perusahaan tembakau besar, ia memanfaatkan bahan sisa panen yang tidak masuk grade menjadi usaha mandiri yang kini memasok industri rokok nasional.

Usaha dan penyebab lahirnya

Busono memulai usaha pengolahan tembakau dengan modal sendiri pada 2023. Ia membawa pengalaman teknis dari pekerjaan sebelumnya dan menata proses perajangan, pengeringan, pemolesan, hingga pengemasan. Musim panen yang berlangsung dari akhir Juli hingga Desember menjadi periode tersibuk bagi gudangnya.

"Awalnya saya bekerja di perusahaan tembakau. Sisa-sisa hasil panen yang tidak masuk grade perusahaan, kita olah dan jual ke perusahaan rokok pasar lokal. Dari situ saya belajar, hingga akhirnya berani buka usaha sendiri,"

— Busono

Serapan tenaga kerja lokal

Hadirnya usaha Busono memberi dampak ekonomi nyata. Aktivitas lapangan dan gudang menyerap pekerja lokal secara langsung. Rinciannya:

  • Pemetikan: sekitar 30 orang pemetik tembakau di ladang.
  • Pengolahan: sekitar 10 pekerja gudang bekerja mulai siang hingga malam.

Para pekerja mengawal seluruh rangkaian produksi, dari pengumpulan daun hingga pengemasan bal siap kirim.

Jembatan antara petani dan industri

Kecamatan Senori kini makin dikenal sebagai sentra pengolahan varietas Serumpung, yang memiliki reputasi kualitas unggul. Untuk menjamin kepastian pasar, Busono menandatangani kemitraan resmi dengan perusahaan rokok.

Ia mengantongi kontrak penyediaan hingga 100 ton tembakau. Dalam skema kemitraan, tembakau dikemas per bal seberat 50 kilogram dan dikirim dalam tiga tahap. Memasuki Oktober 2026, usahanya telah berjalan di musim reguler kedua.

"Bekerja sama dengan perusahaan menjadi rekanan itu sangat cocok karena ada kepastian harga dan kepastian pasar bagi petani. Prinsipnya gotong royong: petani dapat kepastian harga, pengusaha dapat bahan baku, perusahaan dapat kualitas,"

— Busono

Tantangan cuaca dan dinamika harga

Industri tembakau sensitif terhadap kondisi cuaca, terutama kadar air daun saat musim kemarau basah. Pada September lalu, harga daun basah tercatat di kisaran Rp5.000–Rp5.200 per kilogram. Memasuki Oktober, harga turun menjadi sekitar Rp4.500 per kilogram seiring peningkatan kadar air.

Meski demikian, sepanjang 2026 Busono menilai kondisi cuaca relatif bersahabat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hal itu membantu menjaga kualitas panen dan memertahankan harga yang menguntungkan bagi petani pegunungan.

Langkah Busono memperlihatkan bagaimana inisiatif lokal dapat menghubungkan petani desa dengan pasar industri nasional melalui kemitraan dan kemandirian usaha.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait