Pemulung 73 Tahun di Banyuwangi Berdiri Hormat Saat Penurunan Bendera
BANYUWANGI — Seorang pemulung berusia 73 tahun berhenti bekerja dan berdiri memberi hormat saat penurunan bendera pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Untung Suropati, Banyuwangi. Kejadian itu terekam video yang kemudian viral di media sosial, menarik perhatian Dewan Pimpinan Daerah PDI Perjuangan Jawa Timur.
Momen sederhana yang menyentuh
Lelaki yang dikenal sebagai Mbah No itu sedang memilah rongsokan ketika upacara penurunan bendera dimulai. Meskipun mengenakan pakaian lusuh dan karung rongsokan tetap berada di sampingnya, ia memilih berdiri tegak dan memberi hormat pada Sang Saka.
Rekaman singkat menunjukkan ketulusan tindakan itu. Banyak warga tersentuh karena aksi tersebut bukan bagian dari rangkaian upacara resmi, melainkan spontanitas dari seorang warga biasa.
PDI Perjuangan beri tali asih
Video itu memicu respons dari DPD PDI Perjuangan Jawa Timur. Ketua DPD menyampaikan tali asih melalui utusan, termasuk Ilham dan Ahmadi Nur Panji (Gus Mayor). Penyerahan bantuan berlangsung di kediaman Mbah No di Desa Tambakrejo, Kecamatan Muncar, pada Jumat, 21 Agustus 2026, didampingi Kepala Desa Alfen Efendi.
Pertemuan membuka cerita lebih panjang tentang latar hidup Mbah No, yang sehari-hari mencari nafkah dari barang bekas. Meskipun hidup sederhana, penghormatannya pada simbol negara terlihat tegas dan tulus.
Kesetiaan politik dan kata-kata sederhana
Mbah No mengaku sejak muda simpatik pada PNI lalu PDI, dan mengikuti pemikiran Bung Karno. Dalam gaya bicara yang lugas, ia melontarkan kalimat singkat yang mencerminkan kesetiaannya:
“Sampek gepeng melu Banteng!”
Kata-kata itu, keluar dari mulut seorang pemulung tua, menggambarkan loyalitas yang terbangun puluhan tahun tanpa pamrih materi.
Pesan nasionalisme dari pinggir lapangan
Tokoh daerah yang ikut menyaksikan rekaman menilai tindakan Mbah No sebagai pelajaran bagi masyarakat. Pada kesempatan itu, pernyataan mengenai makna nasionalisme disampaikan dan dikutip langsung oleh perwakilan partai:
“Ini bukti bahwa nasionalisme tidak memandang status sosial. Dari seorang pemulung kita belajar apa arti cinta tanah air yang sesungguhnya,”
Perwakilan lain menambahkan bahwa tindakan sederhana itu merupakan pengingat bagi mereka yang hidup lebih beruntung agar tidak acuh terhadap nilai-nilai kebangsaan.
Kisah Mbah No menegaskan bahwa penghormatan pada Merah Putih tidak bergantung pada penampilan, jabatan, atau panggung. Setelah bendera turun, ia kembali memikul karung rongsokan untuk menyambung hidup—tetapi gesturnya telah meninggalkan pesan kuat tentang cinta tanah air yang tulus.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
Bali Tundukkan Banteng Jatim 1-0, Lolos ke Final Soekarno Cup
Bali menang 1-0 atas Banteng Jatim di semifinal Soekarno Cup 2026 berkat gol cepat I Putu Kenzie pada detik...
Bangkalan Kaji Sumber Air Pamorah untuk Irigasi dan Air Bersih
Pemkab Bangkalan meninjau sumber air Pamorah (21/8/2026) untuk dikembangkan jadi sumber irigasi dan air bers...
Sumenep Dorong Penguatan Transportasi Laut dan Bahas Izin DBS III
Pemkab Sumenep audiensi ke Kemenhub (21/8/2026) untuk optimalisasi Pelabuhan Kalianget, pelabuhan rakyat, da...
Ngawi Gelar Apel Kesiapsiagaan Hadapi Potensi Karhutla
Wabup Ngawi memimpin apel kesiapsiagaan di Sengon Hill, 20 Agustus 2026; 26 kelompok relawan, TNI/Polri, dan...
Surabaya Verifikasi Semua Panti dan Tutup Panti Tak Berizin
Pemkot Surabaya verifikasi seluruh panti asuhan dan tutup panti tak berizin; anak korban mendapat pendamping...
Ketua DPRD Madiun: Orang Tua Harus Kenalkan Tradisi pada Gen Z
Ketua DPRD Madiun minta orang tua aktif kenalkan tradisi seperti Nyadran kepada anak dan Gen Z agar warisan...