Meteri Bumi di Kedungdowo: Warga Trenggalek Doa Jelang HUT ke-832
Trenggalek — Warga Dusun Bendogolor, Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, menggelar tradisi Meteri Bumi di sumber air Kedungdowo pada Jumat, 21 Agustus 2026. Acara itu berupa doa, sesajen, dan pakaian adat sebagai ungkapan syukur sekaligus pengingat merawat alam menjelang hari jadi Trenggalek ke-832 pada 31 Agustus 2026.
Prosesi sederhana di sumber air
Pagi itu suasana di sekitar mata air lebih hening dari biasanya. Masyarakat berkumpul mengenakan beskap dan busana adat khas Trenggalek. Sesepuh desa memimpin doa, sementara pejabat daerah hadir memberi penguatan moral.
Prosesi berlangsung singkat namun khidmat. Sesajen disusun, doa dipanjatkan, dan hampir 15 menit suasana memberi ruang pada aliran air yang menjadi penopang kehidupan warga Desa Wonocoyo.
Pesan pelestarian dari kepala daerah
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin menilai Meteri Bumi mengandung pesan penting tentang syukur dan tanggung jawab terhadap alam. Menurutnya tradisi ini juga berfungsi sebagai penguatan budaya lokal.
Meteri ini juga bentuk nguri-uri budaya dan memberi edukasi untuk menjaga kearifan lokal. Meteri bumi kental dengan warisan budaya Jawa, dan bumi harus tetap dirawat dan dijaga.
Arifin menekankan bahwa menjaga sumber air bukan hanya tugas pemerintah. Peran aktif masyarakat, seperti merawat sumber air, menjaga kebersihan, dan mempertahankan ruang hijau, menjadi kunci kelangsungan hidup.
Nilai tradisi untuk generasi mendatang
Meteri Bumi bukan sekadar ritual tahunan. Tradisi ini menyampaikan nilai yang lebih luas, antara lain rasa syukur, kebersamaan, dan gotong royong. Nilai itu dipandang penting untuk diwariskan kepada generasi selanjutnya.
- Rasa syukur terhadap pemberian alam.
- Kebersamaan warga di ruang publik.
- Gotong royong dalam merawat lingkungan.
- Kesadaran bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam.
Pelaksanaan Meteri Bumi di sumber air menegaskan keterkaitan langsung antara adat dan kelestarian lingkungan. Ketika sumber air terjaga, kehidupan masyarakat terjaga. Sebaliknya, kerusakan alam akan langsung berdampak pada warga.
Implikasi jangka panjang
Menjelang ulang tahun ke-832, Trenggalek diingatkan bahwa kemajuan tidak cukup diukur dari pembangunan semata. Kelestarian alam dan pemeliharaan warisan budaya juga menentukan kualitas hidup generasi mendatang.
Di Kedungdowo, pesan itu hadir sederhana melalui aliran air, doa, dan tradisi yang tetap dikenakan. Meteri Bumi menjadi janji kecil masyarakat kepada bumi: menerima kehidupan darinya sambil berjanji untuk terus merawatnya.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
Sumenep Dorong Penguatan Transportasi Laut dan Bahas Izin DBS III
Pemkab Sumenep audiensi ke Kemenhub (21/8/2026) untuk optimalisasi Pelabuhan Kalianget, pelabuhan rakyat, da...
Ngawi Gelar Apel Kesiapsiagaan Hadapi Potensi Karhutla
Wabup Ngawi memimpin apel kesiapsiagaan di Sengon Hill, 20 Agustus 2026; 26 kelompok relawan, TNI/Polri, dan...
Surabaya Verifikasi Semua Panti dan Tutup Panti Tak Berizin
Pemkot Surabaya verifikasi seluruh panti asuhan dan tutup panti tak berizin; anak korban mendapat pendamping...
Ketua DPRD Madiun: Orang Tua Harus Kenalkan Tradisi pada Gen Z
Ketua DPRD Madiun minta orang tua aktif kenalkan tradisi seperti Nyadran kepada anak dan Gen Z agar warisan...
Gintangan Bamboo Attraction: Karnaval Kerajinan Bambu Banyuwangi
Desa Gintangan menggelar Gintangan Bamboo Attraction 19 Agustus 2026, memamerkan kerajinan bambu dan memperk...
Reses DPRD Blitar: Aspirasi Warga Tanggung Didorong Masuk APBD 2027
Ketua Komisi III DPRD Blitar Yudi Meira pastikan aspirasi warga Kelurahan Tanggung dikawal untuk direalisasi...