Pemerintah Mulai Pemulihan Permanen Pascabencana Sumatra hingga 2028
Pemerintah menyatakan penanganan pascabencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah memasuki fase pemulihan permanen yang akan dijalankan melalui program rehabilitasi dan rekonstruksi bertahap hingga 2028.
Fase penanganan dan perkembangan terkini
Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menyebut ada tiga tahapan dalam penanganan pascabencana: tanggap darurat, transisi, dan pemulihan permanen. Tahapan awal langsung dikomando oleh Presiden dan melibatkan seluruh kementerian/lembaga serta pemerintah daerah.
"Tahapan pertama setelah ada bencana adalah tanggap darurat, itu langsung komando dari Bapak Presiden. Semua kementerian/lembaga bergerak, pemerintah daerah semua bergerak dan itu termitigasi dengan cukup baik,"
Menurut Tito, sejak pembentukan Satgas PRR pada 8 Januari, koordinasi lintas sektor dipercepat untuk mengawal fase transisi. Sejumlah layanan dasar yang sempat terganggu kini sebagian besar telah pulih.
Konektivitas dan layanan dasar yang pulih
Pemulihan konektivitas menjadi fokus awal. Seluruh jalan nasional kini kembali terhubung, sedangkan jembatan nasional berfungsi kembali baik melalui pembangunan permanen maupun solusi sementara.
Beberapa solusi temporer yang digunakan antara lain:
- jembatan Bailey
- Armco
- jembatan perintis
- jembatan gantung
Tito menegaskan solusi tersebut fungsional untuk mobilitas dan pengiriman logistik meski belum semuanya permanen.
Pendidikan, hunian, dan kondisi pengungsi
Sektor pendidikan juga menunjukkan kemajuan. Dari sekitar 4.922 sekolah yang terdampak, mayoritas sudah kembali menyelenggarakan proses belajar mengajar setelah perbaikan.
Namun, sebagian kecil sekolah masih menggunakan tenda, kelas darurat, atau menumpang di sekolah lain, terutama di area yang membutuhkan relokasi. Sementara itu, jumlah pengungsi yang tinggal di tenda terus menurun.
Rencana Induk (Renduk) dan target 2026–2028
Pemerintah kini mengarahkan langkah ke fase pemulihan permanen berbasis Rencana Induk percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi (Renduk). Dokumen Renduk disusun melalui konsolidasi usulan pemerintah daerah dan kementerian/lembaga, serta penyelarasan bersama Kementerian PPN/Bappenas dan Satgas PRR.
"Sekarang kita akan melakukan proses menuju pemulihan permanen... kita namakan rehab-rekon, dan ini kuncinya adalah Renduk,"
Renduk dirancang untuk periode 2026–2028 dan mencakup sekitar 11.512 kegiatan lintas sektor. Cakupan kegiatan meliputi:
- pembangunan infrastruktur sungai
- perbaikan jalan dan jembatan
- rehabilitasi sekolah
- pembangunan hunian tetap
Tito menyatakan prioritas pada tahun pertama adalah pembangunan infrastruktur dasar dan percepatan hunian tetap agar masyarakat tidak lama tinggal di hunian sementara.
Dengan fokus pada Renduk dan koordinasi lintas sektor, pemerintah berharap pemulihan wilayah terdampak dapat berlangsung terstruktur dan berkelanjutan hingga akhir periode 2028.
Berita Terkait
Majelis Etik Bongkar Belasan Dugaan Pelanggaran Ketua Nonaktif Ombudsman
Majelis Etik Ombudsman ungkap belasan laporan dugaan pelanggaran terhadap Ketua nonaktif Hery Susanto; lapor...
BGN Larang Bangun Dapur MBG Sebelum Lolos Verifikasi
BGN melarang calon mitra membangun dapur MBG sebelum lolos verifikasi; pendaftaran via mitra.bgn.go.id dan t...
BGN Tutup Sementara Pendaftaran Mitra MBG untuk Validasi Data
BGN menutup sementara pendaftaran mitra MBG sejak 29 Mei 2026 untuk fokus validasi data nasional agar distri...
Murid Papua Apresiasi Bantuan Pendidikan untuk SMK Sorong
Murid SMK Negeri 1 Sorong berterima kasih atas bantuan pemerintah pusat, termasuk perpustakaan, toilet, dan...
Kemendikdasmen Salurkan 159 Hewan Kurban pada Iduladha 1447 H
Kemendikdasmen menyalurkan 159 hewan kurban ke 35 provinsi saat Iduladha 1447 H, dengan total daging sekitar...
Kemendikdasmen Tegaskan Penguatan Fondasi Pendidikan Bermutu
Kemendikdasmen perkuat fondasi pendidikan bermutu lewat revitalisasi 16.167 sekolah, distribusi 288.865 IFP,...