Ekonomi

Misbakhun: Pelemahan Rupiah Saat Ini Beda dengan Krisis 1998

Bagikan:
Grafik pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS

Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menegaskan pelemahan nilai tukar rupiah akhir-akhir ini berbeda secara substansial dari krisis moneter 1998. Pernyataan disampaikan di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026, untuk meredam kekhawatiran publik dan menegaskan posisi kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas keuangan.

Perbandingan numerik: sekarang vs 1998

Misbakhun menyebut pergerakan rupiah saat ini sempat mencapai kisaran Rp17.600 per dolar AS. Namun menurutnya pergerakan itu tidak setara dengan lonjakan pada 1998.

Pada krisis 1998, rupiah melonjak dari sekitar Rp2.000 menjadi menembus Rp17.000 hingga mendekati Rp19.000 per dolar AS—atau kenaikan ratusan persen. Sebaliknya, pelemahan terbaru tercatat dari kisaran Rp16.800-Rp16.900 per dolar AS dan masih menunjukkan volatilitas yang terjaga.

Dulu Rp2.500, Rp2.400 ke Rp 17.000 itu kan ratusan persen. Ini yang harus dipahamkan oleh kita semua kepada masyarakat.

Respons kebijakan dan penguatan institusi

Misbakhun mengingatkan pentingnya menilai kondisi saat ini dalam konteks reformasi dan penguatan institusi pascakrisis. Ia mencontohkan pembentukan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) setelah krisis 1998 dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pasca-krisis global 2008 sebagai bukti respons struktural.

Karena kita selalu memberikan respons yang struktural dan memadai. Kita membuat sistem keuangan makin lama makin solid.

Menurutnya, langkah-langkah ini meningkatkan daya tahan sistem keuangan sehingga tekanan nilai tukar tidak serta merta berujung pada krisis sistemik seperti dua dekade lalu.

Data inflasi dan depresiasi menurut pemerintah

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto turut mengajak publik melihat pergerakan rupiah dalam kerangka historis. Ia menyoroti perbedaan kualitas ekonomi antara periode dua dekade terakhir.

Sedangkan di periode 2014-2024 itu rupiah depresiasinya 30,6 persen dan inflasinya 3 persen. Jadi beda nih kualitas dalam dua dekade terakhir.

Airlangga menyebut pemerintah berhasil menjaga inflasi domestik relatif rendah di tengah tekanan global. Saat ini inflasi tercatat sekitar 2,4 persen dengan depresiasi rupiah sekitar 5 persen, angka yang menurutnya lebih terkendali dibanding periode sebelumnya.

Dengan penjelasan tersebut, kedua pejabat menekankan agar masyarakat tidak terjerumus pada sentimen negatif yang dapat memperburuk kondisi pasar. Mereka menegaskan bahwa kombinasi kebijakan dan institusi pengawas telah memperkuat fondasi sektor keuangan Indonesia.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait