Basarnas Siapkan Operasi Bawah Air untuk Kecelakaan KM Virgo
Basarnas menyiapkan operasi pencarian bawah air sebagai bagian dari penanganan kecelakaan KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa. Pelaksanaan tahap bawah air bergantung pada kondisi cuaca, visibilitas perairan, dan keselamatan personel.
Persiapan tim dan peralatan
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan tim menyinergikan unsur udara, laut, dan darat untuk operasi. Pencarian permukaan tetap menjadi fokus utama sambil menyiapkan langkah bawah air.
Satuan penyelam dan sejumlah kapal khusus sudah ditempatkan di lokasi. Menurut Syafii, beberapa platform TNI AL juga mendukung operasi dengan peralatan pemantauan bawah laut.
“Tiga tim telah disiapkan untuk mendukung pelaksanaan penyelaman. Sejumlah kapal dengan kemampuan pemeriksaan bawah laut juga berada di lokasi,”
Peralatan dan kemampuan teknis
Basarnas menyebut hadirnya kapal Pushidros TNI AL yang dilengkapi ROV dan multibeam echo sounder. Perangkat ini memungkinkan observasi kondisi di bawah permukaan laut tanpa menempatkan penyelam langsung.
Selain itu, penyelam yang dikerahkan memiliki kemampuan bekerja pada kedalaman lebih dari 150 meter dengan dukungan peralatan khusus.
“Penyelam memiliki kemampuan bekerja di kedalaman lebih dari 150 meter dengan dukungan peralatan yang tersedia. Akan tetapi, tinggi gelombang, kecepatan arus, arus bawah laut, hingga jarak pandang adalah faktor utama yang dapat membatasi penyelaman,”
Batasan operasi: cuaca dan kondisi perairan
Basarnas menegaskan faktor cuaca dan kondisi bawah laut menjadi penentu dimulainya operasi penyelaman. Gelombang tinggi, arus kuat, dan visibilitas rendah dapat menunda atau membatasi tindakan bawah air.
Kondisi perairan Laut Jawa yang cenderung keruh memperbesar tantangan teknis. Oleh karena itu, semua persyaratan keselamatan harus terpenuhi sebelum penyelaman dilakukan.
Alternatif jika penyelaman tertunda
Jika operasi bawah air tidak memungkinkan, Basarnas bersama pihak teknis menyiapkan alternatif tindakan. Opsi yang dikaji meliputi salvage, pembalikan posisi kapal, hingga penarikan kapal dari lokasi kecelakaan.
“Jika operasi bawah air tidak dapat dilakukan, kami menyiapkan alternatif penanganan bersama pihak yang memiliki kemampuan teknis,”
Dampak dan langkah selanjutnya
Sampai operasi bawah air dapat dilaksanakan, pencarian korban tetap difokuskan lewat penyisiran permukaan. Basarnas juga terus memantau kondisi cuaca dan perairan untuk menentukan waktu aman memulai penyelaman.
Langkah lanjutan akan diputuskan berdasarkan hasil penilaian teknis dan keselamatan, termasuk keterlibatan pihak-pihak dengan kemampuan salvage bila diperlukan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Komisi V DPR Minta Pendalaman Rentetan Kecelakaan Kapal
Komisi V DPR minta pendalaman penyebab rentetan kecelakaan kapal untuk mengevaluasi usia kapal, kondisi tekn...
DPD Dukung Gerakan Peduli Tetangga dan Minta Kejelasan Peran Agen
DPD dukung Gerakan Peduli Tetangga dan minta kejelasan peran pemerintah serta jadwal, sambil dorong Agen Per...
16 September: Hari Ozon dan Kemerdekaan Meksiko & Papua Nugini
16 September menandai Hari Ozon Sedunia serta hari kemerdekaan Meksiko (1810) dan Papua Nugini (1975), mengi...
Polri Sebut Indikasi Penipuan dalam Kasus Beras Fortifikasi
Polri menemukan indikasi penipuan pada kasus beras fortifikasi dan mendalami keterlibatan korporasi; potensi...
Satgas Pangan Dalami Dugaan Pelanggaran 25 Merek Beras Fortifikasi
Satgas Pangan Polri dalami dugaan pelanggaran 25 merek beras fortifikasi; pembuktian dilakukan dengan uji la...
Wamendikdasmen: WorldSkills Shanghai Cerminkan Kebutuhan Vokasi RI
Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq menyebut WorldSkills Shanghai 2026 sebagai tolok ukur kebutuhan keterampila...