OJK: Valuasi Saham Indonesia Masih Menarik di Level PER 16x
Jakarta, 13 Mei 2026 — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai valuasi saham di pasar modal Indonesia masih menarik setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi oleh sentimen global dan domestik. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, menyebut koreksi ini menawarkan peluang bagi investor yang bersikap selektif.
Valuasi saham saat ini
Menurut OJK, rata-rata price earning ratio (PER) saham Indonesia berada pada level yang relatif rendah bila dibandingkan dengan bursa regional. Hasan menyebutkan tingkat PER saat ini berada di angka sekitar 16 kali, lebih rendah dari rata-rata beberapa pasar tetangga.
Sekarang bahkan secara peer regional, tingkat rata-rata PER saham-saham kita sudah ada di bawah PER rata-rata bursa-bursa lainnya. Sekarang tingkatnya di level 16 kali,
Dengan PER yang lebih murah, OJK menilai momentum koreksi dapat dimanfaatkan untuk akumulasi posisi oleh investor jangka menengah dan panjang. Namun, OJK mengingatkan agar pembelian dilakukan secara selektif sesuai profil risiko.
Kebijakan stabilisasi yang masih berlaku
OJK menegaskan sejumlah kebijakan stabilisasi pasar masih diberlakukan untuk menjaga kelancaran perdagangan dan menekan volatilitas berlebih. Kebijakan itu antara lain izin buyback tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) serta penundaan pembiayaan transaksi short selling hingga September 2026.
- Izin buyback saham tanpa pelaksanaan RUPS
- Penundaan pembiayaan transaksi short selling hingga September 2026
- Pemberlakuan trading halt dan asymmetric auto rejection
Misalnya izin untuk melakukan buyback saham dari para emiten tanpa pelaksanaan RUPS. Ini silakan dimanfaatkan dalam momentum PER yang sudah cukup rendah,
Pemantauan dan respons OJK
OJK bersama self-regulatory organization (SRO) akan terus memantau perkembangan pasar modal. Pemantauan ini dimaksudkan untuk menjaga stabilitas pasar dan memastikan tidak ada gejolak yang memerlukan respons reaktif.
Hasan mengatakan timnya telah memeriksa langsung intermediaries, broker, dan pengelola dana. Hasilnya menunjukkan belum ada kepanikan signifikan di kalangan investor.
Kami juga tadi sudah memeriksa langsung baik di intermediaries, para broker kita, kemudian para pengelola dana. Tidak ada kepanikan berarti yang perlu kita respons secara reaktif,
Imbas dan prospek
Kondisi valuasi yang lebih terjangkau membuka peluang masuk bagi investor yang bersedia menilai fundamental emiten secara selektif. Ke depan, OJK akan terus mengevaluasi kebijakan stabilisasi menyesuaikan pergerakan pasar.
Pembaca dan pelaku pasar disarankan memperhatikan perkembangan kebijakan serta indikator valuasi sebelum mengambil keputusan investasi.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...