Mendag Tegaskan Minyakita Produk DMO untuk Stabilisasi Harga
Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa Minyakita merupakan produk dari skema Domestic Market Obligation (DMO) dan berfungsi sebagai instrumen penyeimbang harga minyak goreng. Pernyataan itu disampaikan saat kunjungan Budi di Pasar Palmerah, Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026.
Apa itu Minyakita dan perannya
Budi menjelaskan Minyakita berasal dari kewajiban DMO yang mengatur penyaluran minyak sawit domestik ketika ada aktivitas ekspor. Karena statusnya sebagai produk DMO, jumlah pasok Minyakita berbeda dibandingkan minyak goreng komersial lainnya.
"Saya selalu sampaikan Minyakita itu minyak DMO itu, minyak yang didistribusikan atau mandatori karena adanya ekspor. Jadi jumlahnya tidak seperti jumlah minyak yang lain,"
Menurutnya, fungsi utama Minyakita adalah menjaga stabilitas harga di pasar domestik. Ketika harga minyak goreng komersial naik, Minyakita dimaksudkan menjadi penyangga untuk menahan lonjakan harga.
"Sebenarnya Minyakita itu instrumen untuk stabilisasi harga. Fungsinya itu penyeimbang, agar kalau harga yang lain naik, ini menjadi penyeimbang. Fungsinya itu sebenarnya,"
Stok nasional dan tantangan distribusi
Budi memastikan stok Minyakita secara nasional masih tersedia, namun mengakui bahwa tantangan utama terletak pada distribusi, terutama ke wilayah timur Indonesia. Ia menyebut Papua dan Maluku sebagai daerah dengan kebutuhan tinggi.
Pemerintah menyalurkan Minyakita melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pangan untuk mempercepat penyaluran ke daerah yang memiliki jaringan distributor terbatas. BUMN yang disebut adalah:
- Perum Bulog
- ID Food
"Minyakita memang kalau di daerah Timur terutama Papua dan Maluku, memang tinggi. Tadi juga bulog sudah siap menyuplai,"
Pengaruh harga CPO dan prospek penurunan harga
Budi menyebut kenaikan harga minyak goreng nasional dipengaruhi oleh kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO) dunia. Oleh karena itu, minyak goreng nonsubsidi cenderung mengikuti pergerakan harga CPO global.
Pemerintah memantau harga rata-rata nasional yang menggabungkan minyak curah, minyak premium, dan Minyakita, yang saat ini berada di kisaran Rp19.000 per liter. Budi berharap harga dapat turun kembali seiring kembali normalnya kondisi pasar dan stabilisasi pasokan.
"Memang kalau kita lihat seperti itu, karena di luar Minyakita pasti menyesuaikan dengan harga CPO yang sedang naik sekarang. Mudah-mudahan kalau semua sudah normal kembali, harga juga mulai turun,"
Dengan penegasan ini, pemerintah menegaskan Minyakita bukan substitusi pasar komersial, melainkan alat kebijakan pasar yang disalurkan terbatas untuk menahan gejolak harga, terutama di daerah terpencil yang rentan kekurangan pasokan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...