OECD Apresiasi Reformasi OJK di Sektor Asuransi dan Dana Pensiun
Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memberikan apresiasi atas reformasi yang dijalankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di sektor asuransi dan dana pensiun. Pernyataan itu disampaikan saat Fact-Finding Mission OECD di Jakarta, Senin, 8 Juni 2026, sebagai bagian dari proses aksesi Indonesia menjadi anggota penuh OECD. OECD menilai langkah-langkah kebijakan ini memperkuat ketahanan sektor keuangan serta meningkatkan perlindungan konsumen.
Apresiasi OECD dan tujuan kunjungan
Head of Insurance and Pensions OECD, Pablo Antolín, menganggap Indonesia telah melakukan pembenahan penting pada regulasi dan pengawasan industri asuransi serta dana pensiun. Kunjungan ini dimaksudkan untuk menilai kemajuan reformasi dan memberikan masukan teknis dalam proses aksesi.
Data kinerja sektor
OJK memaparkan sejumlah indikator kunci yang menunjukkan kondisi sektor. Tingkat Risk-Based Capital (RBC) tercatat tinggi, sedangkan ukuran aset dana pensiun menunjukkan pertumbuhan signifikan per April 2026.
| Kategori | Nilai |
|---|---|
| RBC Asuransi Jiwa | 476,11% |
| RBC Asuransi Umum | 311,74% |
| Aset Dana Pensiun | Rp410,14 triliun (April 2026) |
Langkah kebijakan OJK
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyatakan bahwa kunjungan OECD menjadi momentum strategis untuk mempercepat harmonisasi praktik nasional dengan standar internasional. OJK juga sedang mengimplementasikan beberapa program reformasi struktural.
“Indonesia menyambut baik Fact-Finding Mission OECD sebagai bagian penting dari proses aksesi. Kami memandang proses ini menjadi kesempatan strategis untuk melakukan benchmarking praktik internasional terbaik serta mempercepat reformasi sektor keuangan Indonesia,”
Salah satu langkah yang ditekankan adalah implementasi Program Penjaminan Polis, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan. OJK juga mendorong penerapan PSAK 117 yang mengadopsi IFRS 17 dan pengembangan kerangka solvabilitas berbasis risiko (New-RBC).
“Dalam revisi UU P2SK yang telah disetujui, kerangka resolusi dan likuidasi perusahaan asuransi semakin diperkuat. Hal ini menjadi bagian integral dari implementasi Program Penjaminan Polis oleh LPS,”
Dampak dan harapan ke depan
Menurut Pablo Antolín, ada sejumlah kekuatan yang terlihat, termasuk peningkatan inklusi keuangan, ekspansi asuransi mikro, serta penguatan kapasitas aktuaria. OJK juga memanfaatkan kecerdasan buatan dan teknologi digital untuk memperkuat fungsi pengawasan.
Dengan proses aksesi yang berjalan, pemerintah dan OJK berharap masukan OECD dapat memperkuat daya tahan sektor keuangan dan perlindungan konsumen dalam jangka panjang. Reformasi ini diharapkan tidak hanya memenuhi standar internasional, namun juga meningkatkan kepercayaan publik terhadap industri asuransi dan dana pensiun.
Berita Terkait
Bapanas–Kemendag Perkuat Pengawasan Pangan Segar Nasional
Bapanas dan Kemendag menandatangani kerja sama pada 8 Juni 2026 untuk memperkuat pengawasan, mutu, dan pengu...
OJK: Pembiayaan Rumah Tangga Meningkat, Waspadai Risiko NPF
OJK catat kenaikan pembiayaan rumah tangga dan BNPL hingga April 2026, namun NPF naik sehingga multifinance...
IHSG Diperkirakan Terus Melemah Setelah Jatuh 4,5%
IHSG diperkirakan masih melemah setelah turun 4,5%; cadangan devisa turun dan arus keluar modal asing tekan...
IHSG Anjlok 4,5% ke 5.342 pada Sesi II, Tekanan Jual Asing
IHSG ditutup anjlok 4,5% ke 5.342,13 pada 8 Juni 2026 akibat tekanan jual asing dan spekulasi pasar terkait...
DSI Jadi Perantara Tunggal Ekspor Sumber Daya Alam
DSI ditetapkan sebagai perantara tunggal ekspor sumber daya alam berdasar PP No.24/2026, masa transisi hingg...
Mentan Minta Harga TBS Sawit Naik Minimal 10%
Mentan minta harga TBS sawit naik minimal 10% untuk lindungi 15 juta petani; 300 perusahaan akan diverifikas...