Film Na Willa Hidupkan Kenangan RRI di Era 1960-an
Na Willa, film karya Ryan Adriandhy, menampilkan peran Radio Republik Indonesia (RRI)
Plot dan latar 1960-an
Cerita berlatar pada dekade 1960-an, saat radio menjadi bagian penting kehidupan keluarga Indonesia. Tokoh utama, Na Willa, digambarkan sebagai anak periang yang penuh rasa ingin tahu.
Dalam satu adegan sentral, Na Willa mendengarkan lagu dari radio tua di rumahnya yang disebutnya Erres, karena belum mampu melafalkan "RRI". Ketertarikannya pada suara penyanyi di radio mendorongnya mencoba membongkar perangkat tersebut.
Adegan yang menonjolkan RRI
Saat Na Willa mulai membuka radio tua, sang ibu, Mak, yang diperankan Irma Rihi, segera menghentikannya untuk mencegah kecelakaan. Dari momen ini, sang ibu menjelaskan bahwa suara indah yang terdengar bukanlah orang tersembunyi dalam kotak, melainkan siaran dari stasiun RRI yang tertangkap oleh perangkat radio.
Adegan tersebut berfungsi ganda: memperkuat nuansa zaman dan memberi edukasi singkat kepada penonton tentang mekanisme siaran radio waktu itu.
Ingatan penulis asli dan koleksi vinyl keluarga
Penulis buku asli Na Willa, Reda Gaudiamo, menuturkan bahwa ia tumbuh di masa kejayaan penyanyi seperti Lilis Suryani. Ia juga mengenang kebiasaan ibunya yang rajin mendengarkan radio dan berburu piringan hitam.
"Ibu saya sangat suka mendengarkan radio, kalau dengar lagu baru pasti di dengarkan baik-baik dan di catat liriknya. Setelah itu, ibu pasti pergi ke Siola, toko piringan hitam, dan akan membeli vinyl disana,"
Reda mengatakan koleksi vinyl ibunya cukup banyak, meliputi nama-nama seperti:
- Ernie Djohan
- Alfian
- Lilis Suryani
- Titiek Puspa
- Onny Suryono
Respons dari siaran RRI
Penyiar RRI Jember, Gea Debora, menyatakan terharu melihat representasi RRI di film tersebut. Ia menilai adegan itu penting untuk memperkenalkan peran radio kepada generasi muda yang mungkin belum mengenalnya.
"Terima kasih Na Willa, ini menarik sekali. Sangat mengedukasi filmnya,"
Makna dan relevansi
Selain menghibur, film Na Willa membuka kembali kenangan kollektif tentang media yang pernah dominan. Film ini menunjukkan bagaimana radio berperan sebagai pengantar lagu, informasi, dan kebiasaan sosial di rumah.
Dengan menyajikan RRI secara nyata di layar, pembuat film memberi ruang bagi penonton muda untuk memahami sejarah media penyiaran Indonesia dan bagi generasi lama untuk bernostalgia.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Tambah 1 Juta Ton Beras SPHP untuk Tekan Harga
Pemerintah menambah satu juta ton beras SPHP untuk menjaga pasokan dan menekan kenaikan harga, disalurkan Ok...
Dari Radio Perjuangan ke Media Publik: 5 Fakta RRI
Lima fakta RRI: dari peran dalam perjuangan kemerdekaan hingga status LPP dengan 105 stasiun, termasuk 37 di...
BGN Dorong Delapan Kebiasaan Sehat dalam MBG di Sekolah
BGN mendorong delapan kebiasaan pada program MBG di sekolah untuk membentuk budaya hidup sehat, kebersihan,...
Erupsi Anak Krakatau: Perusahaan Diminta Perkuat Mitigasi
Perusahaan diminta memperkuat mitigasi karena Anak Krakatau berstatus Siaga; langkah evakuasi dan perlindung...
Kemenperin Perketat SNI Wadah Makan untuk Program MBG
Kemenperin memperketat pengawasan SNI wajib untuk food tray baja tahan karat seiring Program MBG, didukung P...
Wakil Ketua DPR: Standardisasi Jangan Marginalkan Petani Kecil
Chusnunia minta standardisasi industri tidak meminggirkan petani kecil; ia usulkan koperasi, pendampingan, d...