MenPPPA Dorong Kesetaraan Gender di Perkebunan Sawit
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPPPA) Arifah Fauzi mendorong penerapan pengarusutamaan gender di sektor perkebunan sawit untuk menutup kesenjangan akses, upah, dan kesempatan peningkatan kapasitas. Pernyataan itu disampaikan usai peluncuran Pedoman Pengarusutamaan Gender di Sektor Kelapa Sawit di Jakarta, Rabu, 9 September 2026. Langkah ini bertujuan agar perempuan pekerja mendapat fasilitas dan kesempatan yang setara di lapangan.
Kesenjangan yang masih terjadi
Arifah menilai masih ada perbedaan nyata antara pekerja laki-laki dan perempuan di perkebunan sawit, mulai dari akses terhadap sumber daya hingga peluang peningkatan kapasitas. Ia menegaskan perlunya penguatan hak agar perempuan mendapat perlakuan setara dan kesempatan yang sama dalam rantai nilai.
“Masih ada gap, masih ada kesenjangan antara pekerja laki-laki dan perempuan di perkebunan sawit. Kesetaraan hak pekerja perempuan perlu diperkuat agar mereka mendapatkan kesempatan yang sama di sektor perkebunan sawit,”
Fasilitas pendukung untuk pekerja perempuan
Menurut Arifah, dukungan fasilitas menjadi kunci agar perempuan pekerja dapat menjalankan peran ganda sebagai pekerja dan pengasuh. Ia menyarankan penyediaan ruang bermain dan daycare di lingkungan perkebunan untuk mendukung pekerja yang memiliki anak balita.
“Modul pengarusutamaan gender di sektor perkebunan sawit ini bukan untuk mempersulit perusahaan. Tetapi agar perempuan yang terlibat bisa lebih produktif lagi,”
Fasilitas tersebut dianggap penting untuk menjaga keseimbangan antara produktivitas kerja dan pemenuhan kebutuhan anak.
Sosialisasi dan evaluasi penerapan modul
Pemerintah akan menyosialisasikan modul pengarusutamaan gender kepada sejumlah perusahaan perkebunan dan melakukan evaluasi berkala. Tujuannya memastikan pedoman dapat diimplementasikan secara efektif dan berkelanjutan di berbagai lokasi operasi.
Langkah sosialisasi meliputi pelatihan, dukungan teknis, dan pemantauan pelaksanaan agar praktik inklusif dapat menjadi standar operasional di lapangan.
Perempuan dalam rantai nilai kelapa sawit
Arifah menekankan kontribusi besar perempuan sepanjang rantai nilai kelapa sawit. Namun ia mengakui perempuan masih menghadapi kendala yang menghambat peran optimal mereka.
- Akses terhadap sumber daya dan modal
- Peningkatan kapasitas dan pelatihan
- Perlindungan kerja yang memadai
- Keterlibatan dalam pengambilan keputusan strategis
“Perempuan memiliki kontribusi yang besar di sepanjang rantai nilai kelapa sawit. Namun masih menghadapi berbagai tantangan,”
Penguatan peran perempuan, kata Arifah, menjadi syarat penting untuk mencapai pembangunan sektor sawit yang inklusif dan berkelanjutan.
Dengan sosialisasi dan evaluasi modul yang sistematis, diharapkan praktik kerja di perkebunan sawit dapat berubah menjadi lebih adil dan produktif bagi semua pekerja.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...