MSCI: Indonesia Tetap di Emerging Markets, Bobot Saham Turun
MSCI mempertahankan Indonesia dalam klasifikasi Emerging Markets, namun mengurangi bobot saham negara ini setelah mengeluarkan beberapa emiten dari indeks global.
Ringkasan keputusan
Penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) merilis MSCI Equity Indexes August 2026 Index Review pada Kamis dinihari, 13 Agustus 2026. Dalam laporan itu disebutkan bahwa daftar negara pada indeks MSCI Emerging Markets tidak berubah.
"Daftar negara dalam MSCI Emerging Markets Indexes tidak mengalami perubahan dalam tinjauan ini."
Saham Indonesia yang dikeluarkan dan direklasifikasi
Meski negara tetap berstatus emerging market, bobot Indonesia turun karena dua perubahan utama pada klasifikasi saham.
- PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes karena kendala likuiditas rendah.
- PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) diturunkan ke MSCI Global Small Cap Indexes atau klasifikasi saham kapitalisasi kecil.
Selain itu, terdapat sembilan saham Indonesia yang dikeluarkan dalam penyesuaian pada MSCI Global Small Cap Indexes:
- PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL)
- PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG)
- PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU)
- PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR)
- PT Bank Jago Tbk (ARTO)
- PT Bukalapak.com Tbk (BUKA)
- PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA)
- PT MD Entertainment Tbk (FILM)
- PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI)
Alasan perubahan dan dampak
MSCI mengacu pada kriteria likuiditas dan kapitalisasi pasar saat menentukan kelayakan saham dalam indeksnya. Pengeluaran GOTO dan penurunan kelas CPIN menyebabkan bobot keseluruhan Indonesia pada indeks MSCI menurun.
Penyesuaian ini berdampak pada alokasi investasi pasif yang mengikuti indeks, karena perubahan komposisi akan memicu pembelian dan penjualan dari dana yang mereplikasi indeks MSCI.
Efektifitas dan langkah selanjutnya
Perubahan yang diumumkan berlaku pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026. MSCI juga menyatakan akan melakukan penilaian ulang pada awal September 2026.
Investor dan manajer portofolio akan mengamati pergerakan aliran modal dan liabilitas rebalancing pasar saat penyesuaian indeks ini diberlakukan.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Calon Pembeli Saudi Tinjau Tekstil RI, Potensi Transaksi Rp8,26 Miliar
Calon pembeli Arab Saudi meninjau pabrik tekstil RI (3-6 Aug 2026), menimbang pasokan abaya dan kerudung den...
Kementerian UMKM Perkuat Integrasi SAPA UMKM
Kementerian UMKM menggalang sinergi lintas kementerian untuk mengintegrasikan SAPA UMKM, platform layanan te...
Rupiah Tertekan Isu Geopolitik dan Utang Pemerintah
Rupiah melemah 0,09% ke Rp17.877 pada 12 Agustus 2026, terdorong ketegangan geopolitik dan naiknya utang pem...
Kemendag Gandeng Ritel Modern Perluas Akses Pasar UMKM
Kemendag luncurkan Pojok PPPB dan jalin sinergi dengan ritel modern untuk memperluas akses pasar UMKM pangan...
Amazy dan PLN Latih Ratusan Purnabakti Jadi Wirausaha Frozen Food
Amazy dan PLN tutup dua tahun kemitraan pelatihan, membekali ratusan purnabakti PLN jadi wirausaha frozen fo...
Utang Pemerintah Tembus Rp10.293 T, Menkeu Siapkan Langkah Strategis
Menkeu Purbaya: utang pemerintah per Juni 2026 Rp10.293,69 triliun; pemerintah siapkan langkah strategis kur...