Dari Lahir Sungsang ke Ketua Program Doktor IAIN Langsa
Dr. Miswari, Ketua Program Studi Doktor IAIN Langsa, membuka suasana workshop Visi Keilmuan dan Kurikulum Program Studi Islam Pascasarjana IAIN Langsa pada Kamis (14/5) dengan cerita pribadi yang mengejutkan. Ia mengungkapkan bahwa kelahirannya sungsang sempat membuat keluarga meramalkan bakatnya sebagai tukang urut, namun perjalanan hidupnya berujung pada pengabdian akademik dan pengembangan kurikulum doktoral.
Kenangan lahir sungsang yang mengundang tawa
Di sela diskusi serius, suasana mendadak cair saat Miswari menceritakan masa kelahirannya. Cerita itu memancing tawa dan menjadi pengingat tentang asal-usul sederhana yang membentuknya.
"Dulu ibu saya bilang, karena lahir sungsang mungkin nanti cocok jadi tukang urut,"
Kisah ringan itu disambut gelak tawa peserta, namun menyimpan makna mendalam tentang harapan dan doa keluarga.
Perjalanan akademik dan perubahan arah hidup
Alih-alih menjadi tukang urut, Miswari memilih jalan pendidikan. Ia menempuh studi, menulis, dan mengajar hingga dipercaya memimpin Program Doktor di IAIN Langsa. Perjalanan itu menggambarkan transformasi dari kerja tangan menjadi kerja pemikiran.
Salah seorang peserta menimpali gurauan itu dengan analisis riil tentang peran Miswari saat ini.
"Sekarang mungkin bukan mengurut badan, tapi mengurut kurikulum dan menyusun arah keilmuan,"
Peran dalam workshop kurikulum
Pada workshop, Miswari aktif merapikan berbagai aspek kurikulum. Bersama tim penyusun, ia membahas capaian pembelajaran, struktur kurikulum, dan roadmap riset untuk Program S3 Studi Islam yang sedang dipersiapkan.
Diskusi meliputi penajaman paradigma ilmu serta strategi pengembangan agar program doktoral relevan dengan perkembangan ilmu dan kebutuhan masyarakat.
Makna dan pesan untuk pendidikan
Kisah Miswari menyuguhkan ironi indah: prediksi masa kecil yang sederhana berubah menjadi kontribusi intelektual. Di tingkat yang lebih luas, cerita itu menegaskan bahwa pendidikan lahir dari pengalaman hidup, doa orang tua, dan semangat ketekunan.
Menurutnya, tujuan akhir bukan sekadar menata kurikulum, tetapi "membantu orang lain menjadi lebih baik" melalui arah ilmu yang jelas dan relevan.
Di Aula Pascasarjana IAIN Langsa, sosok yang dulu diprediksi menjadi tukang urut kini hadir sebagai pengarah masa depan pendidikan Islam di Aceh. Siapa tahu, kata ibunya dulu memang tepat: tangannya membawa manfaat banyak orang, hanya kini manfaat itu diwujudkan melalui gagasan dan kebijakan akademik.
Editor: Rizki Palepi
Berita Terkait
Polres Sergai Tangkap Pelaku Curat Rumah Kosong di Sei Rampah
Polres Sergai menangkap AP (27) terkait pencurian di rumah kosong Sei Rampah; kerugian Rp6 juta dan dua reka...
Korban KDRT di Medan Desak Penyelesaian Laporan 2023
Kuasa hukum korban KDRT di Medan mendesak Sat Reskrim Polrestabes Medan menyelesaikan laporan 2023 yang dini...
Pengamat: Rumah Sakit 'Bintang Lima' untuk Pasien BPJS Bukan Prioritas
Pengamat anggaran Sumut minta prioritas perbaikan layanan kesehatan dan pemerataan akses daripada membangun...
Brimob Polda Sumut Perketat Patroli Malam di Titik Rawan Medan
Brimob Polda Sumut menambah patroli dinihari di Medan (18/5) untuk menekan kejahatan jalanan dan meningkatka...
Sergai Perkuat Reformasi Birokrasi dengan Fokus pada SAKIP dan Pelayanan
Pemkab Sergai memperkuat reformasi birokrasi melalui pembinaan, monitoring, dan evaluasi dengan fokus pada S...
Polrestabes Medan Ungkap 86 Kasus Narkoba, 100 Tersangka Ditahan
Polrestabes Medan mengungkap 86 kasus narkoba dalam dua minggu, menahan 100 tersangka dan memusnahkan empat...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!