Lokal

MAA dan PT Pekola Sepakati Optimalisasi Ruang Publik di Langsa

Bagikan:
Pertemuan Ketua MAA dengan Direktur Utama PT Pekola di Hutan Lindung Langsa

LANGSA — Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Langsa, Drs H Mursyidin Budiman, bertemu Direktur Utama PT Pelabuhan Kota Langsa (PT Pekola), Hj T Ratna Lailasari SH MH, di kawasan Hutan Lindung Kota Langsa pada Sabtu (18/7). Pertemuan berlangsung saat Langsa Multikultural Festival dan menghasilkan kesepakatan meningkatkan pemanfaatan ruang publik untuk memperkuat interaksi sosial, melestarikan budaya, serta mendorong ekonomi kreatif.

Pertemuan dan kesepakatan

Pertemuan kedua pemimpin itu terjadi dalam suasana hangat dan menjadi bagian acara yang dibuka Wali Kota Langsa, Jeffry Sentana S Putra SE. Mereka sepakat menjadikan ruang publik sebagai media kolaborasi antara adat, pemerintah, dan pelaku usaha.

Kesepakatan ini muncul sebagai respons terhadap kebutuhan memperkuat kebersamaan dan mengoptimalkan fungsi ruang publik agar lebih produktif dan ramah budaya.

Peran ruang publik menurut MAA

Drs H Mursyidin Budiman menilai ruang publik punya peran strategis dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang harmonis. Ia menekankan bahwa ruang publik yang dikelola baik mampu menjadi panggung tradisi, seni, dan kegiatan positif yang memperkuat identitas Kota Langsa.

Menurut Mursyidin, pengelolaan yang terencana memfasilitasi partisipasi masyarakat serta menjaga nilai-nilai adat tanpa mengabaikan dinamika modernitas.

Dukungan PT Pekola

Direktur Utama PT Pekola, Hj T Ratna Lailasari, menyambut baik inisiatif tersebut dan menyatakan perusahaan siap mendukung berbagai program yang memberi manfaat publik. Dukungan itu mencakup fasilitas untuk kegiatan budaya, program edukasi, serta pengembangan ekonomi kreatif lokal.

Ratna menegaskan pentingnya keterlibatan sektor swasta untuk menciptakan ruang publik yang hidup dan berkelanjutan.

Langsa Multikultural Festival dan dampak

Festival yang menampilkan beragam atraksi seni dan budaya itu menjadi momentum perkuat semangat persatuan dan toleransi. Acara juga memperlihatkan bagaimana ruang publik dapat difungsikan sebagai panggung kreativitas dan promosi pariwisata lokal.

Penyelenggaraan festival menunjukkan potensi ruang publik untuk menarik warga dan wisatawan, sekaligus menjadi sarana pelestarian budaya daerah.

Prospek ke depan

Keduanya berharap sinergi antara Majelis Adat, pemerintah daerah, dan dunia usaha terus diperkuat. Dengan kerja sama tersebut, diharapkan ruang-ruang publik di Kota Langsa semakin produktif, ramah budaya, dan menjadi daya tarik ekonomi.

Langkah konkret ke depan akan difokuskan pada perencanaan acara, pemeliharaan fasilitas, serta program pemberdayaan komunitas untuk memastikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait