Lokal

M4CR Genjot Rehabilitasi Mangrove dan Ekonomi Pesisir di Deli Serdang

Bagikan:
Penanaman mangrove oleh KTH Nelayan Mandiri di Desa Sei Tuan untuk rehabilitasi pesisir

DELISERDANG — Program Mangrove for Coastal Resilience (M4CR) mempercepat rehabilitasi mangrove sekaligus mendorong ekonomi masyarakat pesisir di Desa Sei Tuan, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, pada Kamis (17/9).

Tujuan dan fokus program

Dalam kegiatan Media Visiting M4CR PPIU Sumatera Utara, pihak program menjelaskan bahwa M4CR berlangsung berkelanjutan setelah masa BRGM berakhir dan kini ditempatkan pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kementerian Kehutanan.

Asisten Komunikasi Strategi M4CR PPIU Sumut, Reza Levi Nasution, menyatakan program ini memiliki tiga fokus utama yang saling terkait.

  • Merehabilitasi ekosistem mangrove
  • Meningkatkan potensi ekonomi masyarakat pesisir
  • Membangun keberlanjutan, agar masyarakat menjaga mangrove setelah program usai

“Yang pertama adalah merehabilitasi mangrove yang paling utama. Yang kedua peningkatan potensi ekonomi masyarakat pesisir. Yang ketiga bagaimana sustainable-nya,”

Dukungan pendanaan dan pendekatan ekonomi

Reza menjelaskan rehabilitasi tidak bisa dipisahkan dari upaya meningkatkan ekonomi lokal. Tekanan terhadap mangrove kerap muncul karena pemanfaatan kayu untuk kebutuhan rumah tangga hingga produksi arang.

Oleh karena itu, M4CR memberi dukungan usaha melalui dana hibah dari World Bank, sehingga kelompok masyarakat memperoleh alternatif penghasilan tanpa merusak mangrove.

“Kalau ada kelompok yang mau merawat dan merehabilitasi mangrove, kita bantu potensi ekonominya,”

Jangkauan program di Sumatera Utara

Program M4CR berjalan di empat provinsi: Sumatera Utara, Riau, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Di Sumatera Utara, cakupannya telah mencapai enam kabupaten: Deli Serdang, Serdang Bedagai, Batubara, Asahan, Labuhanbatu, dan Labuhanbatu Utara.

Pengalaman KTH Nelayan Mandiri

Ketua KTH Nelayan Mandiri, Sukamto, memaparkan perjuangan kelompoknya menjaga kawasan mangrove sejak 2016–2017. Mereka memperoleh izin Hutan Kemasyarakatan (HKm) pada Maret 2018 dan aktif melakukan rehabilitasi serta pembibitan.

“Dari penanaman ini, kami sudah menanam 110.000 pohon bakau,”

Sukamto menilai keterlibatan M4CR bermanfaat karena menghubungkan rehabilitasi dengan penguatan ekonomi. Salah satu usaha yang dipersiapkan adalah pembesaran kepiting dengan dukungan matching grant.

Tantangan dan harapan masyarakat

Kepala Desa Sei Tuan, Parningotan Marbun, meminta perhatian lebih dari pemerintah pusat dan daerah. Ia mengatakan pendapatan masyarakat pesisir masih rendah dan butuh solusi pemanfaatan kawasan tanpa mengorbankan fungsi ekologis mangrove.

“Harapan saya supaya masyarakat saya ini bisa mendapatkan penghasilan. Kalau bisa ada izin dan solusi dari Kementerian Kehutanan, masyarakat bisa mendapatkan ikan, udang maupun kepiting,”

Parningotan mengusulkan pembuatan parit atau saluran di titik tertentu dengan dukungan alat berat, namun tetap menunggu izin dari Kementerian Kehutanan.

Peran media dan prospek ke depan

M4CR PPIU Sumut menegaskan pentingnya keterlibatan media untuk menyebarkan informasi tentang rehabilitasi mangrove, pemberdayaan masyarakat pesisir, dan perlindungan pantai dari abrasi. Pendekatan gabungan antara restorasi ekosistem dan penguatan ekonomi dinilai kunci agar masyarakat memiliki alasan kuat menjaga kawasan yang dipulihkan.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait