Nasional

LSBA Bekasi: Pendidikan Lanjutan untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Bagikan:
Pembukaan LSBA Bekasi: anak berkebutuhan khusus mengikuti pelatihan vokasional dan keterampilan hidup

Pendamping Menteri Sosial Fatma Saifullah Yusuf menegaskan pendidikan anak berkebutuhan khusus tak berhenti setelah sekolah formal. Pernyataan itu disampaikan saat pembukaan London School Beyond Academy (LSBA) di LSPR Transpark Bekasi, Sabtu, 15 Agustus 2026. Fatma menilai pendidikan lanjutan penting untuk membekali anak agar hidup mandiri dan diterima masyarakat.

Pendidikan lanjutan untuk kemandirian

Fatma mengatakan bekal setelah pendidikan formal diperlukan untuk meningkatkan martabat dan kemandirian anak berkebutuhan khusus. Ia menekankan peran pendidikan lanjutan sebagai bagian dari pemberdayaan jangka panjang. Harapannya, program seperti LSBA memberi akses bagi keluarga untuk mendapatkan pendidikan yang sesuai kebutuhan anak.

“Setelah pendidikan formal kita harus menyiapkan anak-anak kita untuk bisa menjadi anak-anak yang lebih mandiri. Lebih bermartabat dan bisa diterima di masyarakat,”

Program dan pendekatan pembelajaran di LSBA

Direktur LSBA, Associate Professor Dr. Chrisdina, menyatakan setiap anak memiliki potensi dan kebutuhan pengembangan berbeda. Oleh karena itu, pembelajaran disesuaikan dengan kemampuan masing-masing peserta. Pendekatan di LSBA menekankan praktik langsung dan program yang dirancang personal.

“Pembelajaran di LSBA menekankan praktik langsung. Dengan program yang disesuaikan dengan kemampuan peserta,”

Selain keterampilan vokasional, peserta dilatih kemampuan komunikasi, sosial, disiplin, tanggung jawab, dan kepercayaan diri. Materi meliputi tata boga, kriya, administrasi perkantoran, serta desain digital dan cetak. Pelatihan kerja juga menjadi bagian dari proses untuk memberi pengalaman nyata di lingkungan kerja.

Pengalaman kerja, kewirausahaan, dan keberanian sosial

Founder dan CEO LSPR Institute, Dr. (H.C.) Prita Kemal Gani, menyoroti pentingnya pengalaman langsung untuk membangun keberanian anak berkebutuhan khusus. Ia menilai kebiasaan bertemu lingkungan baru menjadi kunci adaptasi dan pengembangan diri.

“Job training ini penting sekali. Anak-anak bisa berjumpa dengan banyak orang dan belajar keluar dari comfort zone,”

Prita menambahkan bahwa pengalaman praktis membantu peserta mengasah kemampuan melayani, berkomunikasi, dan menjalankan tanggung jawab. Selain itu, peserta mendapat pelajaran kewirausahaan untuk membuat dan menjual hasil karya sesuai kemampuan masing-masing.

Contoh nyata, beberapa peserta belajar membuat dan menjual roti di lingkungan Kementerian Sosial. Kegiatan ini melatih keterampilan pelayanan serta interaksi profesional.

Akses pasar dan dukungan kebijakan

Pendamping Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Shinta Maruarar Sirait, menekankan pentingnya akses pasar bagi karya peserta. Menurutnya, pengalaman menjual secara profesional dapat meningkatkan kepercayaan diri dan membuka peluang kemandirian ekonomi.

Dengan dukungan lembaga dan akses pasar, produk hasil peserta dapat lebih diterima masyarakat dan memberi nilai tambah bagi perekonomian inklusif.

Penutup: Dampak dan prospek

Pembukaan LSBA Bekasi memperluas akses pendidikan vokasional bagi anak berkebutuhan khusus dan menempatkan praktik kerja sebagai inti pembelajaran. Jika program ini berkembang, peluang kemandirian dan inklusi sosial bagi peserta diperkirakan meningkat.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait