BNPT Perkuat Literasi Digital untuk Cegah Radikalisme Daring
BNPT mendesak penguatan literasi digital, kontra-narasi, dan ketahanan masyarakat sebagai langkah utama menghadapi radikalisasi yang berkembang melalui media sosial. Pernyataan itu disampaikan dalam kegiatan bersama Polri pada Senin, 25 Mei 2026, seiring peningkatan penyebaran ideologi ekstrem di ruang digital.
Ancaman radikalisasi pindah ke ranah digital
Kepala BNPT Eddy Hartono menilai transformasi teknologi membuat propaganda radikal bergerak cepat dan masif. Target utama adalah generasi muda yang rentan dipengaruhi narasi di platform digital.
“Jangan sampai kita kalah kuat dengan narasi-narasi kelompok teror. Target mereka adalah anak-anak muda kita,”
Eddy menekankan perlunya edukasi dan penguatan ketahanan masyarakat di ruang digital untuk mencegah proses radikalisasi sejak dini.
Bedah buku dan bukti kebutuhan strategi baru
Sebagai bagian dari upaya itu, BNPT bersama Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menggelar bedah buku Gamifikasi Kekerasan dalam Teror Modern di Era Digital. Buku tersebut mengkaji perubahan pola terorisme modern, mulai dari proses radikalisasi hingga propaganda digital.
Diskusi menyorot bagaimana algoritma, teknik gamifikasi, dan strategi komunikasi daring mempermudah penyebaran pesan-pesan kekerasan. Selain itu, materi menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menyusun kontra-narasi yang efektif.
Perspektif Polri: ancaman global dan lokal saling terkait
Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Dedi Prasetyo, mengingatkan arus informasi global yang bergerak cepat membuat ancaman sulit dipisah antara konteks internasional dan lokal.
“Fenomena ancaman saat ini saling berkaitan dan berpotensi ditiru dengan cepat karena pengaruh media sosial, jaringan ideologi. Dan dinamika sosial masyarakat,”
Dedi menegaskan perubahan pola ancaman menuntut perubahan strategi penanganan, termasuk peningkatan kemampuan deteksi dini dan pencegahan.
Densus 88: medan pertempuran kini di layar keluarga
Kepala Densus 88, Sentot Prasetyo, menyatakan penyebaran paham radikal kini memasuki ruang paling pribadi, melalui perangkat digital dan interaksi keluarga di rumah.
“Medan pertempuran telah berpindah dari hutan belantara. Menuju layar sentuh di ruang keluarga,”
Menurut Sentot, pelaku radikalisasi memanfaatkan kondisi psikologis, pencarian identitas, dan algoritma untuk memengaruhi pengguna muda.
Langkah ke depan
Para pejabat menekankan tiga fokus kerja: memperkuat literasi digital di sekolah dan komunitas, membangun kontra-narasi berbasis bukti, serta meningkatkan deteksi dini melalui kerja sama antar-instansi. Implementasi strategi ini dianggap penting untuk menjaga ruang digital tetap aman bagi generasi muda.
Dengan sinergi BNPT, Polri, dan pemangku kepentingan lain, upaya pencegahan radikalisme daring diarahkan pada edukasi berkelanjutan dan respons cepat terhadap propaganda online yang berbahaya.
Berita Terkait
SNPMB Catat 38 Peserta Curang di UTBK SNBT 2026, Akan Diblacklist
SNPMB mencatat 38 peserta curang pada UTBK SNBT 2026; nama pelanggar akan diblacklist dan dilaporkan ke PTN...
BGN: Pendaftaran Titik SPPG Resmi dan Gratis, Waspada Jual Beli
BGN menegaskan pendaftaran titik SPPG resmi dan gratis; dugaan jual beli titik kini ditangani polisi di bebe...
256.369 Peserta Lolos SNBT 2026, Kelulusan 29,42%
Panitia SNPMB mengumumkan 256.369 peserta lolos SNBT 2026 dari 871.496 pendaftar; tingkat kelulusan 29,42% d...
Pemerintah Percepat Pembangunan Huntap Sumatra, Target Awal Juni
Pemerintah percepat pembangunan 2.603 unit hunian tetap di Sumatra, targetkan timeline jelas pada 1–2 Juni u...
Puluhan Ritel di Lombok Tengah Ditutup, Kemendag: soal Perizinan
Kemendag menyatakan penutupan 25 gerai ritel di Lombok Tengah terkait perizinan; 18 Alfamart dan 7 Indomaret...
Pemerintah: Rp100,1 T untuk Rehabilitasi Pasca-bencana Sumatra
Pemerintah mengalokasikan Rp100,1 triliun (2026–2028) untuk 11.512 program rehab-rekon di Sumatra dengan fok...