Pemerintah Kembangkan Pabrik Bioetanol 60.000 KL di Lampung
Pemerintah mendorong pembangunan pabrik bioetanol berkapasitas 60.000 kiloliter per tahun di Provinsi Lampung sebagai bagian dari strategi hilirisasi perkebunan dan transisi energi. Keputusan itu diambil dalam Rapat Koordinasi dan Kunjungan Lapangan Pengembangan Bioetanol Terintegrasi di Lampung pada Rabu, 10 Juni 2026. Proyek dimulai dengan pilot penanaman sorgum dan pembangunan fasilitas skala awal, sebelum berkembang ke skala komersial.
Komitmen dan kerangka kerja
Kegiatan dipimpin oleh Todotua Pasaribu, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, dengan hadirnya pemangku kepentingan daerah dan industri. Dalam pertemuan itu ditandatangani deklarasi bersama untuk mengembangkan ekosistem bioetanol terintegrasi di Lampung. Kesepakatan mencakup rantai pasok bahan baku, pembangunan fasilitas produksi, serta penguatan kemitraan pertanian.
Lampung memiliki feedstock paling mumpuni untuk pengembangan bioetanol nasional. Posisinya sangat strategis karena dapat memasok kebutuhan Sumatera dan sebagian Jawa yang merupakan pusat konsumsi energi terbesar di Indonesia.
Lokasi dan bahan baku
Tim pemerintah meninjau lokasi di Kabupaten Pesawaran dan Kabupaten Lampung Selatan yang diproyeksikan sebagai pusat pengembangan. Temuan lapangan menunjukkan ketersediaan bahan baku yang kuat, termasuk molases tebu, sorgum, dan limbah biomassa. Hal ini mendukung pembentukan feedstock lokal dan rantai pasok terintegrasi.
Tahapan proyek dan jadwal
Proyek dibagi menjadi tahap percontohan dan tahap komersial. Pada tahap awal akan dilakukan penanaman sorgum varietas Enryu seluas 10 hektare dan pembangunan fasilitas bioetanol skala awal. Tahap komersial menargetkan pengembangan lahan sorgum seluas 6.000 hektare dan pabrik dengan kapasitas 60.000 kiloliter per tahun.
| Tahap | Kegiatan | Sasaran | Jadwal |
|---|---|---|---|
| Percontohan | Penanaman sorgum Enryu dan fasilitas awal | 10 hektare | 2026-2027 |
| Komersial | Pembangunan pabrik dan pengembangan lahan | 6.000 hektare, 60.000 KL/tahun | Operasi Q4 2028 (mulai konstruksi Q3 2027) |
Langkah lanjutan dan manfaat
Sebagai tindak lanjut, pihak terkait akan mempercepat penyusunan studi kelayakan, perencanaan proyek, pengembangan budidaya sorgum, dan finalisasi skema pembiayaan. Proyek ini juga membuka peluang transfer teknologi melalui kerja sama dengan pihak internasional yang telah dikunjungi sebelumnya.
- Percepatan studi kelayakan dan perizinan
- Pengembangan kemitraan petani dan industri
- Finalisasi skema pembiayaan dan investasi
Yang ingin kita bangun bukan hanya pabrik, tetapi ekosistem ekonomi. Feedstock ada di sini, logistik ada di sini, masyarakat agrikulturnya juga ada di sini,
Proyek diharapkan memberi manfaat ekonomi bagi petani dan industri pendukung, serta memperkuat ketahanan energi nasional. Jika berjalan sesuai rencana, Lampung akan menjadi pusat produksi bioetanol untuk memenuhi kebutuhan Sumatra dan sebagian Pulau Jawa.
Berita Terkait
MIND ID Catat Pendapatan Rp159,46 T pada 2025, Hilirisasi Dorong Pertumbuhan
MIND ID raih pendapatan Rp159,46 triliun pada 2025; hilirisasi dan sinergi grup dorong laba dan kontribusi k...
Akhir Pekan: Rupiah Menguat 128 Poin ke Rp17.860
Rupiah ditutup menguat 128 poin ke Rp17.860 akhir pekan ini, terdorong meredanya risiko geopolitik dan senti...
Rupiah Menguat Signifikan, BI: Pasar Respons Positif Kenaikan Suku Bunga
Rupiah menguat ke Rp17.865 per dolar; BI sebut pasar merespons positif kenaikan BI Rate 5,5% dan aliran moda...
Bank Jakarta dan Bapenda Sediakan Pembayaran PKB di Jakarta Fair
Bank Jakarta dan Bapenda DKI menyediakan layanan pembayaran PKB di Jakarta Fair dan lewat JakOne Mobile untu...
5 Pilihan Pembiayaan Usaha untuk Tambah Modal
Lima opsi pembiayaan usaha legal untuk tambahan modal: Gadai BPKB, KTA, modal ventura, KUR, dan kredit modal...
IHSG Ditutup Menguat ke 6.007,66 pada 12 Juni 2026
IHSG ditutup di 6.007,66 pada 12 Juni 2026, naik 2,07% didukung sentimen damai AS-Iran dan koreksi harga min...