Makna Lampion Waisak Borobudur Tarik Wisatawan Dunia
Pelepasan lampion perdamaian pada malam perayaan Waisak di Candi Borobudur kembali menjadi momen sakral yang menarik wisatawan domestik dan mancanegara. Acara ini berlangsung sebagai bagian dari rangkaian ritual Waisak, menandai harapan dan doa untuk kedamaian dunia lewat ribuan cahaya yang beterbangan di langit Borobudur.
Lampion sebagai simbol perdamaian dan pencerahan
Pelepasan lampion menggambarkan harapan kolektif serta penerangan batin manusia. Dalam tradisi Buddha, cahaya lampion melambangkan usaha meninggalkan sifat-sifat negatif seperti keserakahan, kebodohan, dan kemarahan. Dengan demikian, momen visual ini bukan sekadar atraksi, melainkan juga pengalaman spiritual bagi umat yang merayakan.
Jadwal pelepasan dan fasilitas pengunjung
Pelepasan lampion dilaksanakan dalam dua sesi pada malam perayaan Waisak. Waktu pelaksanaan ditetapkan agar pengunjung dapat memilih jadwal yang sesuai.
- Pukul 18.00 WIB
- Pukul 22.00 WIB
Panitia menyediakan area tribun khusus sehingga masyarakat tidak harus ikut melepaskan lampion secara langsung. Tribun ini memberi pandangan lebih jelas dan nyaman untuk menikmati suasana malam penuh doa dan cahaya.
Rangkaian ritual Waisak di Borobudur
Rangkaian upacara dimulai dini hari dengan ritual San Bu Yi Bai yang dilaksanakan sejak pukul 03.30 WIB. Setelahnya berlangsung kirab budaya yang menjadi bagian penting prosesi keagamaan dan kebudayaan. Menjelang matahari terbit pada 1 Juni 2026, pengunjung juga dapat mengikuti Maha Kuthagara Pradaksina sebagai penutup rangkaian ritual.
Perjalanan biksu: Indonesia Walk For Peace
Sebelum puncak perayaan, rangkaian dimulai dengan perjalanan suci para biksu melalui kegiatan Indonesia Walk For Peace. Pada perayaan Waisak 2570 BE tahun 2026, perjalanan dimulai dari Brahmavihara-Arama, Buleleng, Bali, dan berakhir di Borobudur.
Perjalanan kaki ini menempuh jarak sekitar 666 kilometer dan dimulai sejak 9 Mei 2026. Masyarakat diberi kesempatan menyambut para biksu melalui kirab budaya dan doa bersama selama perjalanan berlangsung.
Perjalanan tersebut menekankan nilai kesederhanaan karena para biksu hanya membawa perlengkapan seperlunya. Ritual ini juga mengajarkan kesabaran, ketahanan mental, dan kerukunan dalam mencari kedamaian serta kebijaksanaan hidup.
Dengan perpaduan makna spiritual dan pemandangan visual yang kuat, pelepasan lampion Waisak di Borobudur terus menjadi daya tarik wisata sambil memperkuat pesan perdamaian dan toleransi antarumat beragama.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kemenbud Usulkan Tari Zapin ke UNESCO untuk Perkuat Pelestarian
Kementerian Kebudayaan mengusulkan Tari Zapin ke UNESCO (29 Sept 2026) untuk memperkuat pelestarian lintas g...
Korlantas Buka Layanan Blokir ETLE di Samsat Seluruh Indonesia
Korlantas membuka layanan pengurusan blokir ETLE langsung di Samsat mulai 30 September 2026 untuk memudahkan...
STNK Digital Resmi Berlaku, Pengendara Tak Perlu Bawa STNK Fisik
Korlantas luncurkan STNK Digital lewat aplikasi Digital Korlantas; dokumen elektronik ini setara hukum denga...
Basarnas Alihkan Pencarian Jurnalis ke Operasi SAR Rutin
Basarnas tetap melanjutkan pencarian lima jurnalis lewat operasi SAR rutin; pencarian berlangsung 24 jam ses...
Wamensos Dorong Pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan
Wamensos mendorong percepatan pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan; Pemkab sediakan lahan 8,1 ha untuk m...
Menko Pangan Tawarkan Insentif Karbon untuk Investor Hijau
Menko Pangan Zulkifli Hasan tawarkan insentif pasar karbon untuk tarik investasi hijau di sektor pangan, sam...