Krista Interfood 2026 Jadi Mesin Baru Pariwisata Gastronomi
Kementerian Pariwisata menilai Krista Interfood 2026 bukan sekadar pameran jualan booth, melainkan berpotensi menjadi mesin baru penggerak pariwisata melalui pengembangan ekosistem gastronomi. Pernyataan ini disampaikan pada 24 Juni 2026 menyusul penyelenggaraan yang digelar di NICE PIK 2, Kabupaten Tangerang.
Pameran sebagai penggerak pariwisata
Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenpar, Rizki Handayani Mustafa, menyatakan pameran makanan dan minuman kini berperan lebih luas. Ia melihat Krista Interfood mempertemukan rantai ekosistem kuliner dari hulu ke hilir.
“Saya melihat penyelenggaraan Krista Interfood atau pameran ini tidak hanya sekadar dilihat sebagai acara MICE biasa. Biasanya kita melihat pameran hanya sebagai ajang jualan booth, nanun saya melihat lebih dari itu,”
Rangkaian ekosistem gastronomi
Rizki menilai penyelenggara telah melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk akademisi, pelaku usaha, pemerintah, media, dan komunitas. Langkah ini dinilai mendorong pembentukan ekosistem gastronomi yang berkelanjutan.
“Kita tahu bahwa akar dari gastronomi dan kuliner kita adalah budaya. Bayangkan, dengan lebih dari 500 etnis, betapa beragamnya masakan Indonesia dan betapa kayanya sumber daya pangan kita,”
Ia mengusulkan agar pelaku usaha perjalanan wisata yang menawarkan paket gastronomi turut dilibatkan. Menurut Rizki, integrasi paket wisata akan mengubah pameran dari tempat transaksi menjadi pemicu pergerakan wisatawan.
Data dan format Krista Interfood 2026
CEO Krista Exhibitions, Daud Salim, menyebut Krista Interfood 2026 menghadirkan sekitar 1.500 peserta dari 25 negara. Pameran juga menampilkan paviliun dari 12 negara dan berlangsung di NICE PIK 2, Kabupaten Tangerang.
“Hari ini kami memperkenalkan nama baru, Krista Interfood. Ini adalah platform nasional bagi industri makanan dan minuman Indonesia dengan skala internasional,”
Format acara menekankan kolaborasi lintas sektor, bukan hanya pameran produk. Hal ini sejalan dengan dorongan Kementerian Pariwisata untuk mengembangkan gastronomi berbasis budaya sebagai nilai tambah pariwisata.
Implikasi bagi industri pariwisata
Model pameran seperti Krista Interfood menunjukkan potensi MICE menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang menghubungkan pangan, budaya, pariwisata, dan perdagangan. Jika diimplementasikan luas, konsep ini dapat meningkatkan kualitas destinasi dan menarik wisatawan yang mencari pengalaman kuliner otentik.
Ke depan, kolaborasi antara penyelenggara pameran, pelaku pariwisata, dan komunitas kuliner menjadi kunci agar ekosistem gastronomi menghasilkan dampak ekonomi dan budaya yang lebih besar.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
KAI Bidik 1,4 Miliar Penumpang per Tahun dengan Empat Mesin Pertumbuhan
KAI menargetkan 1,4 miliar penumpang per tahun dan porsi bisnis non-farebox 20–25% sebagai bagian transforma...
Ekspor Minyak Atsiri Tembus USD348,7 Juta, Kemenperin Pacu Hilirisasi
Ekspor minyak atsiri Indonesia naik ke USD348,7 juta pada 2025; Kemenperin dorong hilirisasi untuk tambah ni...
BI Pertahankan Suku Bunga, Rupiah Menguat hingga Rp17.840
BI pertahankan suku bunga 5,75%; rupiah menguat 0,12% ke Rp17.840 per USD pada penutupan perdagangan Rabu, 1...
Secure Parking Kelola 1.700 Titik, Hampir 2 Juta Kendaraan Sehari
Secure Parking mengelola 1.700 titik parkir di Indonesia dan melayani hampir 2 juta kendaraan setiap hari, d...
BI Tahan Suku Bunga, IHSG Melemah 0,86% ke 6.394
IHSG turun 0,86% ke 6.394 pada 19 Agustus 2026 setelah BI mempertahankan suku bunga 5,75%; nilai transaksi R...
Pasokan Energi Jadi Prioritas Pertamina Pascagempa NTT
FKBI meminta pasokan BBM dan LPG jadi prioritas penanganan pascagempa NTT agar distribusi logistik dan aktiv...