Rupiah Dekati Rp18.000, Tertekan Penguatan Dolar AS
Nilai tukar rupiah kembali melemah dan mendekati level Rp18.000 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu, 24 Juni 2026. Rupiah tercatat turun 0,57 persen ke posisi Rp17.960 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya ditutup di Rp17.859. Tekanan datang dari penguatan dolar AS dan ekspektasi kenaikan suku bunga global.
Pergerakan pasar dan prediksi
Analis pasar melihat tekanan berlanjut pada rupiah. Lukman Leong, Analis Pasar Uang Doo Financial Futures, menyatakan bahwa mata uang domestik kemungkinan masih akan melemah terhadap dolar AS.
"Rupiah diprakirakan masih akan melemah terhadap dolar AS,"
Lukman memperkirakan nilai tukar akan bergerak di kisaran Rp17.800-Rp17.950 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS diperkirakan berada di level sekitar 101,44, naik sekitar 0,4 persen dari level sebelumnya.
Faktor pendorong penguatan dolar
Penguatan dolar dikaitkan dengan sentimen risk off global. Pelaku pasar memilih menghindari risiko karena kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga yang lebih tinggi.
- Ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed menjadi faktor utama.
- Indeks dolar mencapai tingkat tertinggi sejak Mei 2025, yang turut menekan mata uang berkembang.
- Perkembangan geopolitik dan indikator ekonomi AS juga memperkuat permintaan terhadap dolar.
Sinyal kenaikan suku bunga disebutkan telah muncul dari pimpinan The Fed setelah rapat pekan lalu, yang menambah tekanan pada mata uang negara-negara berkembang.
Berita baik bagi rupiah dan implikasinya
Di sisi lain, ada kabar positif untuk pasar modal Indonesia: status emerging market untuk pasar ekuitas Tanah Air tetap dipertahankan oleh MSCI. Menurut Lukman, keputusan ini berpotensi memberikan dukungan bagi rupiah.
"Hal ini bisa mendorong penguatan rupiah,"
Meski demikian, dukungan tersebut diperkirakan tidak akan langsung menghapus tekanan dari arus modal dan sinyal suku bunga AS. Pelaku pasar akan terus memantau data inflasi AS, pernyataan pembuat kebijakan, serta perkembangan geopolitik sebagai faktor penentu.
Dampak jangka pendek
Secara praktis, pelemahan ke sekitar Rp17.900-Rp18.000 berpotensi memicu penyesuaian dalam pasar valuta asing dan portofolio investor asing. Perusahaan importir dan konsumen yang bergantung pada dolar perlu bersiap menghadapi biaya impor yang lebih mahal jika tren tersebut berlanjut.
Secara keseluruhan, rupiah diperkirakan akan bergerak di rentang yang telah diprediksi sambil menunggu arah kebijakan suku bunga dan sinyal pasar global selanjutnya.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
KAI Bidik 1,4 Miliar Penumpang per Tahun dengan Empat Mesin Pertumbuhan
KAI menargetkan 1,4 miliar penumpang per tahun dan porsi bisnis non-farebox 20–25% sebagai bagian transforma...
Ekspor Minyak Atsiri Tembus USD348,7 Juta, Kemenperin Pacu Hilirisasi
Ekspor minyak atsiri Indonesia naik ke USD348,7 juta pada 2025; Kemenperin dorong hilirisasi untuk tambah ni...
BI Pertahankan Suku Bunga, Rupiah Menguat hingga Rp17.840
BI pertahankan suku bunga 5,75%; rupiah menguat 0,12% ke Rp17.840 per USD pada penutupan perdagangan Rabu, 1...
Secure Parking Kelola 1.700 Titik, Hampir 2 Juta Kendaraan Sehari
Secure Parking mengelola 1.700 titik parkir di Indonesia dan melayani hampir 2 juta kendaraan setiap hari, d...
BI Tahan Suku Bunga, IHSG Melemah 0,86% ke 6.394
IHSG turun 0,86% ke 6.394 pada 19 Agustus 2026 setelah BI mempertahankan suku bunga 5,75%; nilai transaksi R...
Pasokan Energi Jadi Prioritas Pertamina Pascagempa NTT
FKBI meminta pasokan BBM dan LPG jadi prioritas penanganan pascagempa NTT agar distribusi logistik dan aktiv...