Rupiah Melemah ke Rp17.859, Pasar Tunggu Evaluasi MSCI
Rupiah ditutup melemah ke posisi Rp17.859 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa, 23 Juni 2026, turun 0,09 persen (16 poin). Pelemahan dipicu kombinasi sentimen geopolitik dan kekhawatiran domestik, termasuk pelonggaran sanksi AS terhadap Iran dan evaluasi MSCI terhadap pasar modal Indonesia.
Sentimen geopolitik: pelonggaran sanksi AS terhadap Iran
Pasar bereaksi terhadap kebijakan AS yang memberikan kelonggaran 60 hari bagi Iran, sehingga ada ekspektasi minyak Iran kembali ke pasar global. Ekspektasi pasokan tambahan itu menekan harga minyak dan memengaruhi aliran modal ke mata uang berisiko.
“Presiden Trump memberikan kelonggaran bagi Iran selama 60 hari, sehingga Iran dapat melakukan penjualan dan pengiriman minyaknya,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi.
Sempat terjadi meredanya ketegangan karena negosiasi damai, namun pasar tetap waspada karena pernyataan ancaman yang disampaikan oleh Trump melalui Truth Social. Analis mencatat pernyataan tersebut dapat kembali memicu volatilitas jika negosiasi menemui jalan buntu.
“Jika Iran tidak berperilaku baik dalam negosiasi, saya akan melakukan apa yang harus saya lakukan,” ujar Ibrahim yang mengutip pernyataan Presiden AS.
Tekanan dari evaluasi MSCI
Di dalam negeri, pelaku pasar menunggu hasil evaluasi MSCI yang dinilai berpotensi memengaruhi aliran modal asing. Sebelumnya, MSCI menurunkan penilaian terhadap aspek Information Flow pasar modal Indonesia dari positif menjadi negatif.
“Catatan lainnya menyoroti aktivitas perdagangan yang terkordinasi. Serta penyediaan informasi perusahaan emiten yang tidak disertai versi bahasa Inggris,” ujar Ibrahim.
Catatan MSCI terkait transparansi struktur kepemilikan saham publik (free float) juga disorot pelaku pasar sebagai faktor yang membuat investor asing berhati-hati.
Dampak pada sektor manufaktur dan tenaga kerja
Selain faktor eksternal, kondisi korporasi domestik turut menambah tekanan pada rupiah. Beberapa perusahaan manufaktur dilaporkan menghentikan produksi, merumahkan karyawan, menunda pembayaran gaji, dan merelokasi investasi ke negara lain.
“Hal itu terjadi sebagai dampak perang AS-Iran yang berlarut-larut, membuat perekonomian melambat,” kata Ibrahim.
Salah satu perusahaan otomotif yang disebut akan melakukan pemutusan hubungan kerja massal berada di wilayah Pasuruan dan Mojokerto, dengan ancaman PHK dalam jumlah besar.
Prospek ke depan
Ke depan, nilai tukar diperkirakan tetap rentan terhadap perkembangan geopolitik dan keputusan MSCI. Pelaku pasar akan memantau dua faktor ini untuk menilai arus modal dan tekanan pada rupiah.
Volatilitas jangka pendek kemungkinan meningkat sampai kepastian kebijakan dan hasil evaluasi tercapai.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
KA Mutiara Timur Layani 304.522 Penumpang Jan–Sep 2026
KA Mutiara Timur layani 304.522 penumpang Jan–Sep 2026, naik 22,78%; konektivitas ke Banyuwangi dan Ketapang...
ADB Gelontorkan USD650 Juta untuk Pendalaman Pasar Keuangan Indonesia
ADB setujui dukungan USD650 juta untuk memperdalam pasar modal, modernisasi keuangan digital, dan dorong pem...
OJK Targetkan Lima Bank Syariah Beraset Besar pada 2027
OJK menargetkan lima bank syariah beraset besar pada 2027 lewat konversi dan konsolidasi, dengan BSI sebagai...
Kenaikan PTKP Dinilai Angin Segar untuk Daya Beli
Ekonom FEB UI nilai kenaikan PTKP dapat menjaga daya beli dan memperkuat keadilan pajak; pembahasan lanjut d...
Grab Luncurkan Group Ride: Berbagi Ongkos hingga 50%
Grab meluncurkan fitur Group Ride sejak April 2026 untuk atur perjalanan bersama lewat satu pemesanan, denga...
Mobilitas Kereta Api Sumatra Capai 11,34 Juta Penumpang
KAI mencatat 11.342.350 pergerakan penumpang di Sumatra (Jan–Sep 2026), naik 12,02% dibandingkan 2025.