Ekonomi

IHSG Terkoreksi 1,29% ke 6.037,52 pada Sesi I Bursa

Bagikan:
Grafik pergerakan IHSG melemah di sesi I dengan level 6.037,52 dan data transaksi Rp6,6 triliun

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 1,29 persen ke level 6.037,52 pada akhir perdagangan sesi I, Selasa, 23 Juni 2026. Pelemahan terjadi meski nilai transaksi dan volume perdagangan masih mencatatkan aktivitas cukup tinggi.

Pergerakan pasar dan data perdagangan

Sepanjang sesi I, IHSG sempat menyentuh titik tertinggi di 6.121,77 dan terendah di 6.076. Pada jeda siang, nilai transaksi mencapai sekitar Rp 6,6 triliun dengan volume perdagangan saham sebanyak 11,4 miliar lembar.

Saham berwarna merah mendominasi pergerakan pasar, dengan 437 saham melemah. Sebanyak 221 saham menguat, sementara 152 saham lainnya stagnan.

Respons analis

Analis menilai potensi pergerakan IHSG pada sesi kedua relatif terbatas. Tim Pilarmas Investindo memperkirakan indeks masih berada dalam kisaran support dan resistance yang sempit.

“Kami melihat IHSG berpotensi menguat terbatas dengan support dan resistance 6.050 – 6.220,” ujar Tim Pilarmas Investindo, Selasa, 23 Juni 2026.

Diperkirakan, sentimen pasar akan tetap dipengaruhi oleh data neraca eksternal dan perkembangan kebijakan fiskal domestik.

Paket stimulus Rp 26,34 triliun

Pemerintah dikabarkan menyiapkan paket stimulus senilai Rp 26,34 triliun untuk semester II-2026. Tujuannya menjaga pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian global yang meningkat.

Stimulus itu dirancang untuk meredam perlambatan ekonomi dan menekan risiko eksternal. Program yang masuk dalam paket antara lain:

  • Diskon tarif transportasi;
  • Insentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk tiket pesawat;
  • Program Magang Nasional bagi 150.000 peserta;
  • Pelatihan vokasi untuk lulusan SMK dan pekerja terdampak PHK;
  • Penurunan tarif PPh Final royalti penulis menjadi 1,5 persen untuk mendukung ekonomi kreatif.

Meski demikian, analis menilai dampak paket ini terhadap pertumbuhan ekonomi agregat kemungkinan terbatas karena nilai stimulus relatif kecil dibandingkan ukuran perekonomian nasional.

“Efektivitasnya akan sangat bergantung pada kecepatan penyaluran dan realisasi program-program tersebut,” tambah Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas.

MSCI dan prospek status Emerging Market

Pasar juga menantikan hasil rapor MSCI untuk memastikan posisi Indonesia dalam klasifikasi Emerging Market. Sampai saat ini, penilaian internal menunjukkan Indonesia unggul atas beberapa negara seperti India dan Korea Selatan pada sejumlah kriteria.

Menurut tim analis, Indonesia tercatat memiliki 10 kriteria berpredikat sangat baik dari 18 kriteria, enam berpredikat baik, dan dua kurang baik. Mereka meyakini posisi Indonesia akan tetap bertahan.

“Hal ini tentu yang kami yakini, Indonesia masih akan mempertahankan statusnya sebagai negara Emerging Market,” ujar Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas.

Investor akan memantau realisasi stimulus dan hasil rapor MSCI sebagai faktor penentu sentimen lanjutan menuju penutupan perdagangan hari ini.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait