Ekonomi

Nilai Tukar Rupiah Melemah Terkait Negosiasi AS-Iran

Bagikan:
Grafik pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada 23 Juni 2026

Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa, 23 Juni 2026. Rupiah dibuka turun 0,12 persen atau 21 poin ke posisi Rp17.864 per dolar AS, melanjutkan tekanan dari penutupan hari sebelumnya di Rp17.843.

Data pasar dan pergerakan terkini

Pasar menunjukkan penguatan dolar AS yang membebani mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 4,51 persen, sementara yield tenor dua tahun berada di 4,23 persen.

Indikator Nilai
Rupiah — pembukaan 23 Juni 2026 Rp17.864 / USD (-0,12%)
Rupiah — penutupan sebelumnya Rp17.843 / USD (-0,22%)
Imbal hasil obligasi AS 10 tahun 4,51%
Imbal hasil obligasi AS 2 tahun 4,23%
Ekspektasi kenaikan The Fed Dua kali 25 bps (Sep & Des 2026)

Pemicu eksternal: negosiasi AS-Iran dan outlook The Fed

Analis pasar menyebut ketidakpastian atas pembicaraan damai antara AS dan Iran menjadi salah satu pendorong penguatan dolar. Selain itu, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tahun ini turut menekan mata uang negara berkembang.

"Rupiah diprakirakan masih akan melemah terhadap dolar AS yang kembali menguat," kata Lukman Leong, analis pasar uang di Doo Financial Futures.

Pelaku pasar juga menantikan perkembangan data indeks harga konsumsi pribadi inti, atau PCE core, sebagai penunjuk arah kebijakan suku bunga bank sentral AS. Tingginya inflasi di AS, yang masih berada di atas target 2 persen, memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga.

Prospek pergerakan rupiah

Berdasarkan kondisi pasar saat ini, rupiah diperkirakan akan bergerak terbatas. Analis memproyeksikan rentang pergerakan harian berada di sekitar Rp17.800–Rp17.900 jika indeks dolar AS berkisar 101,03–101,04.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi faktor pembatas bagi penguatan mata uang negara berkembang. Dengan demikian, rupiah cenderung tetap rentan hingga ada kejelasan lebih lanjut mengenai negosiasi geopolitik dan sinyal kebijakan moneter AS.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait