Gempa NTT: Korban 105 Meninggal, 1.678 Luka, 179.037 Pengungsi
Jumlah korban akibat gempa besar di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus bertambah. Hingga Rabu, 26 Agustus 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 105 orang meninggal, 1.678 orang luka-luka, dan 179.037 jiwa masih mengungsi. Data ini diperbarui pada pernyataan daring yang dirilis Kamis, 27 Agustus 2026.
Korban jiwa, luka, dan pengungsian
BNPB melaporkan adanya penambahan dua korban meninggal sehingga total menjadi 105 orang. Dari jumlah tersebut, 48 orang dinyatakan meninggal akibat dampak langsung gempa, sedangkan sisanya karena dampak tidak langsung bencana.
"Kami memperoleh data ketambahan dua orang yang meninggal, sehingga jumlah total yang meninggal menjadi 105,"
Jumlah korban luka juga meningkat menjadi 1.678 orang, bertambah 12 orang dari catatan sebelumnya. BNPB menyatakan data luka dan meninggal masih dapat berubah seiring proses pendataan dan verifikasi di lapangan.
Tren pengungsi dan daerah terdampak
Walau masih besar, jumlah pengungsi mulai menurun. BNPB mencatat penurunan 6.094 orang sehingga tersisa 179.037 pengungsi. Penurunan terbesar tercatat di Kabupaten Sikka, namun ada penambahan pengungsi di wilayah lain.
"Yang tertinggi itu ada di Nagekeo, Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat,"
Kondisi tersebut menunjukkan proses pemulihan masyarakat terdampak masih memerlukan penanganan intensif di beberapa kabupaten. Penyediaan layanan kesehatan, sanitasi, dan penanganan psikososial masih menjadi kebutuhan prioritas.
Aktivitas gempa susulan
Aktivitas kegempaan di Flores tetap tinggi. Berdasarkan pembaruan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang disampaikan melalui akun X Daryono, tercatat 8.193 gempa susulan hingga pukul 05.00 WIB, Kamis, 27 Agustus 2026.
"Gempa susulan terbesar tercatat mencapai magnitudo 6,2, sedangkan yang paling kecil berada pada magnitudo 1,0,"
Dari total itu, 34 kejadian memiliki magnitudo di atas 5. Selain itu, 146 gempa susulan dilaporkan terasa oleh warga, menandakan tingkat kegempaan yang signifikan pascagempa utama magnitudo 7,7.
Implikasi dan langkah ke depan
Data BNPB dan BMKG menegaskan kebutuhan untuk mempertahankan pemantauan serta percepatan respons di lapangan. Verifikasi korban dan penanganan pengungsi terus berlangsung, sementara mitigasi risiko gempa susulan tetap menjadi prioritas untuk mencegah dampak tambahan.
Pemerintah daerah dan lembaga terkait diimbau meningkatkan koordinasi, mempercepat pemulihan infrastruktur, dan memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi sampai kondisi dinyatakan aman untuk kembali ke hunian masing-masing.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...