Kesehatan

Bahaya Konten Negatif Media Sosial bagi Kesehatan Mental Prajurit

Bagikan:
Prajurit menggunakan ponsel di pos jaga menunjukkan risiko paparan konten negatif

Paparan konten negatif di media sosial dinilai mengancam kesehatan mental prajurit dan kesiapan tugas. Pernyataan itu disampaikan oleh dokter spesialis psikiatri dr. Karina Yudithya pada 31 Juli 2026 di Jakarta. Menurutnya, penggunaan media sosial yang tidak bijak berpotensi memicu stres, kecemasan, hingga depresi jika berlangsung berlebihan.

Dampak biologis: dopamin, tidur, dan kelelahan

Dr. Karina menjelaskan bahwa interaksi di platform digital memicu pelepasan dopamin saat menerima respons positif, seperti "like" atau komentar. Mekanisme reward ini mendorong ketergantungan sehingga seseorang mudah gelisah apabila perhatian itu tidak didapatkan lagi.

Akibat kecanduan gawai ini tentunya akan membuat tidak fokus dan hilang konsentrasi, jadi akan berakibat fatal. Bukan hanya buruk untuk diri sendiri, tapi juga berdampak pada satuan.

Gangguan tersebut berimplikasi pada kualitas tidur turun, sehingga tubuh dan otak tidak mendapat pemulihan optimal. Akibatnya, prajurit menjadi rentan mengalami kelelahan mental, burnout, dan penurunan konsentrasi yang berisiko pada kinerja operasional.

Dampak psikologis dan operasional

Selain efek biologis, paparan berita konflik, ujaran kebencian, atau kebiasaan membandingkan diri di media sosial bisa memperburuk kondisi psikologis. Otak cenderung menyimpan memori negatif jika individu tidak memiliki mekanisme coping yang adaptif.

Ketergantungan terhadap gawai juga mengganggu disiplin dan kesiapan operasional. Penurunan fokus saat menjalankan tugas berpotensi menunda pengambilan keputusan atau menyebabkan kesalahan yang berdampak pada individu maupun satuan.

  • Penurunan kualitas tidur dan pemulihan fisik
  • Peningkatan risiko stres berkepanjangan dan burnout
  • Gangguan konsentrasi dan disiplin saat tugas
  • Potensi kesalahan operasional hingga ancaman keselamatan

Upaya memperkuat ketahanan mental

Pihak satuan TNI terus menjalankan program penguatan ketahanan mental. Salah satunya adalah penyelenggaraan ceramah kesehatan bertema Manajemen Stres untuk meningkatkan kemampuan personel dalam mengenali dan mengelola stres.

Menjaga kesehatan mental bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kesiapan dan tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, dan organisasi. Prajurit yang kuat adalah prajurit yang mampu mengendalikan emosi, berpikir jernih dalam setiap situasi, serta berani mencari solusi dan dukungan ketika menghadapi tekanan.

Kegiatan pelatihan, edukasi penggunaan media sosial secara bijak, serta akses ke layanan kesehatan jiwa menjadi langkah konkret yang dijalankan. Selain intervensi tingkat satuan, pendekatan pencegahan di tingkat individu dinilai penting untuk membangun resiliensi.

Penanganan paparan konten negatif perlu kombinasi kebijakan, pembinaan, dan dukungan profesional. Jika tidak diatasi, dampak jangka panjang terhadap kesiapan operasional dan keselamatan satuan dapat meningkat. Oleh karena itu, pengawasan penggunaan gawai dan program manajemen stres menjadi bagian penting dalam menjaga performa prajurit.

Putri Anindya
Penulis
Putri Anindya

Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.

Berita Terkait