Kesehatan

Edukasi Gizi Berkelanjutan untuk Hentikan Konsumsi Susu Kental Manis

Bagikan:
Sosialisasi edukasi gizi mengenai bahaya susu kental manis bagi anak

Muslimat NU mendesak edukasi gizi berkelanjutan untuk menghentikan kebiasaan memberi susu kental manis (SKM) pada balita. Pernyataan itu disampaikan Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU, Erna Yulia Sofihara, saat bertemu Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Langkah ini diambil karena masih luasnya persepsi keliru bahwa SKM adalah susu pertumbuhan anak.

Persepsi keliru soal SKM

Praktik memberikan SKM sebagai minuman anak masih terjadi meski Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menegaskan bahwa SKM bukan produk untuk pemenuhan gizi anak. Kesalahpahaman ini membuat orang tua mengganti susu pertumbuhan dengan produk yang kandungan susunya sangat rendah dan gula sangat tinggi.

Dengan jaringan organisasi hingga tingkat Ranting di seluruh Indonesia, Muslimat NU berharap kader-kadernya dapat menjadi ujung tombak edukasi gizi di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Contoh nyata dan dampaknya pada anak

Ani Maryani, warga Desa Pangauban, mengaku pernah memberi SKM pada anaknya karena mengira itu sumber nutrisi. Perubahan perilaku makan anaknya menjadi indikator praktik yang perlu diperbaiki. Ani menyebut anaknya menolak makanan utama dan memilih rasa gurih atau manis.

Telur rebus enggak mau, maunya telur ceplok pakai kecap

Selain pola makan, Ani melihat perkembangan fisik anaknya tidak meningkat signifikan sesuai usia. Kasus seperti ini menunjukkan masih banyak orang tua yang belum paham perbedaan SKM dan susu pertumbuhan.

Data survei menunjukkan praktik masih umum

Survei nasional Universitas Islam Bandung (Unisba) menemukan bahwa 67,6 persen masyarakat masih mengonsumsi SKM sebagai pengganti susu pertumbuhan. Khusus Jawa Barat, 25,8 persen responden mengaku memberi SKM sebagai pengganti susu, dan 57,9 persen menyatakan anak mereka masih mengonsumsi SKM hingga saat ini.

Peran organisasi dan generasi muda

Muslimat NU menyoroti pentingnya peran kader hingga tingkat ranting untuk menyebarkan edukasi. Selain itu, generasi muda dan mahasiswa diharapkan menjadi agen perubahan melalui program seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk meluruskan miskonsepsi di lapangan.

Ketua KKN IKIP Siliwangi Desa Pangauban, Ahmad Nur Rasyidin, menilai informasi tentang SKM perlu diperluas karena pengetahuan masyarakat belum merata. Keterlibatan mahasiswa dinilai strategis karena kedekatan mereka dengan teknologi dan kemampuan berinteraksi langsung dengan warga.

Catatan dari Kementerian Kesehatan

Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, dr. Lovely Daisy, MKM, menegaskan rendahnya literasi gizi masyarakat terkait makanan pendamping ASI. Menurutnya, masih banyak yang menganggap SKM sebagai minuman sehat untuk anak padahal kandungan susunya sangat sedikit dan gula sangat tinggi.

Hasil ini tentu menjadi keprihatinan kita bahwa masih minimnya pengetahuan gizi, terutama terkait makanan pendamping ASI, di mana mereka memahami bahwa kental manis itu minuman yang sehat untuk anak mereka. Padahal kandungan susu pada kental manis sangat sedikit, bahkan sangat tinggi kandungan gulanya.

Upaya menurunkan konsumsi SKM butuh strategi berkelanjutan: penguatan literasi gizi di keluarga, pelatihan kader di tingkat desa, kampanye publik oleh pemerintah dan lembaga kesehatan, serta pemanfaatan peran mahasiswa. Tanpa tindakan terpadu, kebiasaan ini berisiko terus memengaruhi pemenuhan gizi anak-anak Indonesia.

Putri Anindya
Penulis
Putri Anindya

Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.

Berita Terkait