Mahasiswa Mandarin Diminta Jadi Jembatan Komunikasi Lintas Budaya
MEDAN — Praktisi komunikasi Wendelyn Leo menegaskan kemampuan berbahasa Mandarin tidak cukup untuk menghadapi kebutuhan dunia kerja global. Dalam workshop Beyond Translation: How Language, Communication, and Public Speaking Shape Reputation di Universitas Prima Indonesia pada Jumat (12/6), Wendelyn meminta mahasiswa bertindak sebagai jembatan yang menghubungkan perbedaan perspektif, budaya komunikasi, dan ekspektasi kedua pihak.
Inti pemaparan: bahasa sebagai alat
Wendelyn menjelaskan bahwa tantangan utama komunikasi lintas budaya sering bukan bahasa. Masalahnya ada pada pemahaman konteks, perspektif, dan ekspektasi lawan bicara. Ia menekankan bahasa hanyalah alat di dunia profesional.
Banyak orang mengira kemampuan bahasa adalah tujuan akhir. Padahal di dunia profesional, bahasa hanyalah alat. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menggunakan bahasa tersebut untuk membangun pemahaman, kepercayaan, dan hubungan antara pihak-pihak yang memiliki latar belakang berbeda.
Strategi komunikasi yang diajarkan
Dalam sesi praktik, Wendelyn membahas sejumlah langkah strategis untuk membentuk pesan yang efektif. Peserta diajak menganalisis studi kasus internasional untuk melihat dampak kata dan kalimat terhadap citra dan reputasi.
- Menentukan key message yang jelas
- Memahami target audiens dan ekspektasinya
- Membaca tren komunikasi dan konteks budaya
- Menyusun narasi yang relevan dan konsisten
- Membangun hubungan dan kepercayaan dengan publik
Peran mahasiswa Bahasa Mandarin
Wendelyn menilai mahasiswa Bahasa Mandarin memiliki posisi strategis karena mampu memahami dua lingkungan budaya. Peran mereka tidak sekadar menerjemahkan kata, melainkan juga menjembatani makna dan cara berpikir.
Peran kalian bukan hanya menerjemahkan bahasa. Kalian juga bisa menjadi jembatan yang membantu kedua pihak saling memahami cara berpikir, cara berkomunikasi, dan ekspektasi yang berbeda. Kemampuan itulah yang semakin dibutuhkan di dunia kerja saat ini.
Kompetensi nonbahasa penting bagi karier
Mei Lisa, Sekretaris Program Studi Sarjana Terapan Bahasa Mandarin untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional UNPRI, mengatakan workshop bertujuan memperkuat kompetensi di luar kebahasaan. Ia mengingatkan bahwa kefasihan bahasa tanpa keterampilan komunikasi dapat berisiko menimbulkan miskomunikasi.
Bahasa adalah alat, tetapi komunikasi adalah dampaknya. Seseorang bisa fasih berbahasa Mandarin, tetapi tanpa kemampuan komunikasi yang baik, pesan yang disampaikan bisa kurang tepat, bahkan berisiko menimbulkan miskomunikasi.
Dengan demikian, mahasiswa diharapkan mengembangkan kemampuan menyampaikan pesan secara efektif untuk mendukung kerja sama lintas budaya antara Indonesia dan Tiongkok. Penguatan keterampilan ini dinilai krusial untuk menjawab kebutuhan pasar kerja yang semakin mengedepankan kemampuan lintas budaya.
Berita Terkait
Wabup Resmikan Majelis Dzikir Daarul Istiqomah di Bilah Barat
Wakil Bupati Labuhanbatu H. Jamri ST meresmikan Majelis Dzikir Daarul Istiqomah di Desa Tebing Linggahara; r...
Sosialisasi Perda Persampahan Medan Nomor 7/2024
Anggota DPRD Medan Tia Ayu sosialisasi Perda No.7/2024 tentang pengelolaan sampah pada 14 Juni; sekitar 1.00...
TOTK Lake Toba 2026 di Samosir Berakhir Sukses, Ribuan Pelari Ikut
TOTK Lake Toba 2026 di Samosir resmi ditutup, diikuti ribuan pelari dari 34 negara; penyerahan hadiah digela...
TTI Soroti Keterlambatan Tender RS Regional Tapaktuan Rp13,8 Miliar
TTI mendesak penjelasan soal keterlambatan tender RS Regional Tapaktuan Rp13,8 miliar TA 2026 dan minta peng...
Menteri PU Tinjau Sekolah Rakyat Aceh 2 di Subulussalam
Menteri PU Dody Hanggodo meninjau progres Sekolah Rakyat Aceh 2 di Subulussalam; proyek 6,8 ha nilai kontrak...
Kapolda Aceh Rotasi Pejabat, Kasatreskrim Aceh Selatan Diganti
Kapolda Aceh melantik pejabat baru; Kasatreskrim Aceh Selatan diganti lewat Surat Telegram ST/311 tanggal 11...