Nasional

Wamen ESDM: Strategi Perkuat Ketahanan Energi Indonesia di G20

Bagikan:
Wamen ESDM Yuliot Tanjung berbicara di pertemuan G20 Energy di Houston

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Yuliot Tanjung, memaparkan strategi Indonesia memperkuat ketahanan energi pada G20 Energy Abundance Ministerial Meeting di Houston, Texas, 14-16 September 2026. Ia menyoroti upaya meningkatkan produksi minyak domestik, mendorong diversifikasi energi, dan memastikan transisi energi yang berkeadilan menuju Net Zero Emissions pada 2060 atau lebih cepat. Penyampaian ini dilatarbelakangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global akibat konflik geopolitik.

Ancaman pasokan dan respons Indonesia

Yuliot menyatakan gangguan distribusi dan risiko pada infrastruktur energi meningkatkan ketidakpastian pasokan dan tekanan harga. Sebagai respons, pemerintah memperkuat kemampuan nasional melalui peningkatan produksi dan pengembangan sumber energi dalam negeri. Langkah ini dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan impor serta meningkatkan ketahanan terhadap guncangan eksternal.

Target produksi minyak dan insentif investasi

Untuk mengurangi defisit antara konsumsi dan produksi, pemerintah menargetkan produksi minyak mencapai 1 juta barel per hari. Saat ini konsumsi BBM sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik tercatat sekitar 600 ribu barel per hari. Pemerintah membuka peluang investasi pada 118 wilayah kerja migas dengan skema fiskal yang dirancang untuk menarik investor dan mendorong peningkatan produksi.

"Indonesia mendukung hak berdaulat setiap negara untuk menentukan jalur energinya berdasarkan kondisi nasionalnya. Kami terus memperkuat ketahanan energi nasional dengan tetap mendorong transisi energi yang berkeadilan menuju ‘Net Zero Emissions’ pada 2060 atau lebih cepat,"

Diversifikasi energi dan program B50

Diversifikasi jadi fokus lain. Pemerintah mendorong pengembangan energi baru terbarukan dan pemanfaatan sumber daya lokal. Salah satu program utama adalah B50, yaitu campuran solar dengan bahan bakar nabati hingga 50 persen. Program ini diproyeksikan mampu mensubstitusi impor solar sekitar 310 ribu barel per hari dan menghemat hampir USD 10 miliar.

  • B50 membuka peluang kerja lebih dari 2 juta lapangan kerja melalui pengembangan bahan bakar nabati.
  • Program ini juga mengurangi tekanan fiskal akibat impor bahan bakar.

Rencana pengembangan sektor kelistrikan

Pada sektor ketenagalistrikan, pemerintah memperkirakan pertumbuhan permintaan listrik sekitar 5,3 persen per tahun. Rencana umum tenaga listrik (RUPTL) 2025-2034 menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW, dengan sekitar 76 persen dari kapasitas baru berasal dari energi terbarukan. Target ini membutuhkan investasi sekitar USD 180 miliar dan membuka peluang bagi produsen listrik independen sebesar 73 persen dari kapasitas baru.

Selain itu, pemerintah mendorong pengembangan 100 GWp pembangkit listrik tenaga surya untuk menggantikan pembangkit diesel pada sistem utama. Upaya ini diharapkan menurunkan emisi dan biaya operasi secara bertahap.

"Kami telah membenahi iklim investasi di dalam negeri. Kami mempermudah prosedur berusaha,"

Pendekatan kebijakan dan kerja sama internasional

Yuliot menegaskan kebijakan energi tidak bisa diseragamkan karena kondisi lokal dan kapasitas tiap negara berbeda. Pendekatan yang seimbang perlu memperhatikan ketahanan, keterjangkauan, akses, dan keberlanjutan. Ia menyerukan G20 untuk mendukung solusi inklusif dan konteks-spesifik.

"G20 harus mendorong pendekatan yang seimbang yang memajukan ketahanan energi, keterjangkauan, aksesibilitas, dan keberlanjutan. Indonesia siap bekerja sama dengan seluruh anggota untuk membangun masa depan energi global yang inklusif, berkelanjutan, dan aman,"

Pemaparan ini menunjukkan arah kebijakan energi Indonesia yang menggabungkan peningkatan produksi dalam negeri, diversifikasi sumber energi, dan insentif investasi. Ke depan, implementasi target-target tersebut akan menjadi tolok ukur kemampuan negara menghadapi ketidakpastian pasokan global.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait