Ekonomi

IHSG Melemah 22,69 Poin, Ditutup di 6.439,75 pada Sesi I

Bagikan:
Grafik pergerakan IHSG melemah ke level 6.439,75 pada sesi I perdagangan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 22,69 poin atau 0,35 persen pada penutupan sesi I, Jumat, 18 September 2026, berada di level 6.439,75. Pergerakan ini terjadi di tengah komentar pasar terkait kondisi fiskal dan sentimen eksternal seperti harga minyak.

Pergerakan pasar dan data perdagangan

IHSG dibuka pada level 6.512,57, sempat menyentuh tertinggi 6.521,02 dan terendah 6.433,37 selama sesi pertama menurut data RTI Business. Sebelumnya, pada perdagangan Kamis (17/9), IHSG ditutup menguat 0,4 persen di level 6.462,43.

Analisis teknikal dan sentimen

Tim analis dari Phintraco Sekuritas menilai secara teknikal IHSG masih menunjukkan potensi penguatan jangka pendek. Mereka menyoroti indikator Stochastic RSI yang membentuk Golden Cross di area oversold.

Secara teknikal, IHSG masih bertahan di atas level 6.400 dan indikator Stochastic RSI membentuk Golden Cross di area oversold. Sehingga IHSG diperkirakan bergerak cenderung menguat menguji level 6.500 hingga 6.550 pada perdagangan Jumat.

Selain sinyal teknikal, koreksi harga minyak dunia disebut menjadi sentimen positif yang dapat menopang pasar pada hari ini.

Revisi UU Keuangan Negara dan implikasi fiskal

Pasar juga memantau pembahasan revisi Undang-Undang Keuangan Negara oleh DPR RI, yang salah satu poinnya membahas batas maksimal defisit APBN. Kenaikan batas defisit di atas 3 persen PDB menjadi topik yang mendapat sorotan karena konsekuensi fiskalnya.

Jika batas defisit tersebut dinaikkan dari level tiga persen PDB, dampak positif yang mungkin terjadi adalah memberi fleksibilitas. Fleksibilitas tersebut dapat digunakan pemerintah untuk membiayai program-program pemerintah.

Namun tim analis memperingatkan adanya sejumlah risiko jika batas defisit dinaikkan.

  • Kenaikan utang pemerintah
  • Peningkatan beban bunga untuk membiayai tambahan defisit
  • Potensi kurang terserapnya Surat Berharga Negara (SBN) dan obligasi korporasi

Risiko yang perlu diperhatikan di antaranya potensi kenaikan utang dan beban bunga pemerintah untuk membiayai tambahan defisit. Kondisi tersebut juga dapat berdampak pada kurang terserapnya SBN yang diterbitkan pemerintah dan obligasi korporasi yang diterbitkan swasta.

Dampak pada investor global dan prospek mata uang

Tim analis menambahkan bahwa perubahan kebijakan defisit berpotensi memengaruhi persepsi investor global dan lembaga pemeringkat. Perubahan itu bisa berdampak pada peringkat kredit, aliran modal asing, serta nilai tukar rupiah.

Investor global dan lembaga pemeringkat internasional dapat menganggap disiplin fiskal Indonesia melemah, sehingga berpotensi memicu penurunan peringkat kredit. Kondisi tersebut juga berpotensi memicu capital outflow dan pelemahan rupiah.

Konteks historis dan penutup

Indonesia pernah menaikkan batas defisit APBN di atas 3 persen terhadap PDB pada periode 2020-2022 saat pandemi Covid-19. Rata-rata defisit fiskal negara-negara ASEAN dilaporkan berada di kisaran 3 hingga 4,2 persen terhadap PDB pada 2026, sehingga perkembangan kebijakan fiskal ini menjadi sentimen yang terus dicermati investor.

Secara ringkas, pergerakan IHSG pada sesi I dipengaruhi kombinasi faktor teknikal, sentimen harga minyak, dan prospek kebijakan fiskal; pasar akan terus memantau perkembangan pembahasan defisit serta respons investor asing dan pergerakan rupiah.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait