Nasional

Hari Anak Nasional: Pentingnya Kesehatan Mental Anak Sejak Bayi

Bagikan:
Anak bermain dengan orang tua menunjukkan kelekatan emosional dan kesehatan mental

Menjelang Hari Anak Nasional pada 23 Juli, pakar kesehatan mental mengingatkan pentingnya membangun kesehatan mental anak sejak usia dini. Pesan itu disampaikan karena fondasi emosional dianggap sama pentingnya dengan pemenuhan gizi, imunisasi, dan tumbuh kembang fisik. Pernyataan ini disampaikan oleh Prof. Dr. Endang Widyorini dalam wawancara pada 22 Juli 2026.

Pentingnya kesehatan mental sejak bayi

Prof. Endang menjelaskan kesehatan mental bukan sekadar tidak adanya gangguan psikologis. Anak yang sehat mental dapat berkembang optimal, mengenali kelebihan dan kekurangannya, serta menyelesaikan masalah secara bertahap.

"Anak yang sehat mental mampu berkembang optimal, mengenali kelebihan dan kekurangannya, serta menjalin hubungan baik dengan orang lain. Ketika menghadapi masalah, ia juga berusaha mencari jalan keluar secara bertahap."

Menurutnya, pembentukan kesehatan mental dimulai sejak bayi melalui rasa aman, kasih sayang, dan kelekatan emosional dengan orang tua. Periode nol hingga dua tahun menjadi fase krusial untuk membangun rasa percaya diri dan kepercayaan pada lingkungan.

Peran pola asuh dan lingkungan keluarga

Endang menegaskan pola asuh orang tua adalah faktor utama dalam pembentukan kesehatan mental anak. Orang tua harus memberi kasih sayang sekaligus menjadi teladan dalam menghadapi konflik dan stres sehari-hari.

Ia juga mengingatkan orang tua agar menghindari memberi label negatif atau cepat menghakimi saat anak berbuat salah. Sikap demikian bisa melukai harga diri dan mendorong anak berbohong karena takut dihukum.

"Kenapa anak berbohong, karena takut hukuman. Kalau orang tua belum yakin itu kesalahan anak, jangan langsung menghakimi."

Selain kehadiran orang tua, kualitas konten digital yang diakses anak menjadi perhatian. Endang menilai pendampingan dan aktivitas bersama keluarga lebih penting daripada sekadar membatasi durasi layar.

Data skrining dan kebijakan Kemenkes

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, memaparkan hasil skrining yang menunjukkan sekitar 4,5% anak terindikasi mengalami depresi atau kecemasan pada cek kesehatan gratis.

"Masalah kesehatan mental tidak hanya dialami orang dewasa. Separuh gangguan kesehatan jiwa mulai muncul sebelum usia 14 tahun sehingga anak lebih rentan terhadap tekanan."

Imran menyebutkan faktor yang memengaruhi kondisi ini antara lain perkembangan teknologi informasi dan perubahan pola pengasuhan. Kementerian Kesehatan telah mengintegrasikan aspek kesehatan mental ke dalam layanan ibu dan anak.

  • Pemeriksaan kehamilan dan kelas ibu hamil
  • Edukasi positive parenting
  • Pemantauan tumbuh kembang di Posyandu

Upaya tersebut dimaksudkan untuk memadukan pemenuhan kebutuhan dasar dengan pola pengasuhan positif dan dukungan emosional keluarga.

Implikasi dan langkah ke depan

Pakar dan pemerintah berharap momentum Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa kesehatan mental anak adalah tanggung jawab bersama. Keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, dan masyarakat perlu menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung agar anak tumbuh sehat secara emosional.

Perlindungan dari kekerasan, perundungan, dan dampak negatif dunia digital menjadi bagian dari upaya pencegahan yang berkelanjutan.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait