Kemenkes: 39.672 Kasus DBD hingga Mei 2026, 105 Meninggal
Kementerian Kesehatan mencatat 39.672 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia hingga Mei 2026, dengan 105 kematian. Pemerintah mendorong penguatan deteksi dini dan tindak lanjut di daerah untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat dengue.
Angka nasional dan sebaran
Data Kemenkes menunjukkan Jawa Barat menjadi provinsi paling banyak melaporkan kasus, lebih dari 9.000 kasus dengan 36 kematian. Secara global, Indonesia menyumbang sekitar 3 persen kasus dengue dunia, namun berkontribusi hingga 17 persen dari total kematian akibat penyakit tersebut.
"Indonesia adalah negara dengan kasus dengue nomor dua terbesar di dunia. Di kawasan Asia Tenggara, jumlah kasus dengue di Indonesia merupakan yang tertinggi," kata Prima Yosephine.
Strategi pengendalian
Direktur Penyakit Menular Kemenkes, Prima Yosephine, mengatakan pemerintah memperkuat deteksi dini, diagnosis, tata laksana, pencegahan, serta surveilans untuk mempercepat respons terhadap lonjakan kasus.
Langkah yang diharapkan menjadi bagian dari strategi nasional meliputi peningkatan tata kelola, sumber daya, pembiayaan, kemitraan, data, riset, dan inovasi. Pemerintah menargetkan tidak ada kematian akibat dengue pada 2030 serta penurunan kasus sebesar 25 persen dibandingkan kondisi sebelumnya.
"Outcome yang kami harapkan adalah zero death pada tahun 2030. Penurunan kasus dengue sebesar 25 persen dibandingkan tahun 2021," ucap Prima Yosephine.
Intervensi utama
Kemenkes menyiapkan tiga intervensi utama untuk menekan kasus dengue, yaitu:
- Pengendalian lingkungan melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN),
- Pengendalian vektor termasuk inovasi Wolbachia,
- Pengendalian pada manusia, termasuk perluasan vaksinasi dengue.
Inovasi Wolbachia dan vaksinasi
Program nyamuk ber-Wolbachia saat ini dijalankan di lima kota: Jakarta, Kupang, Semarang, Bandung, dan Bontang. Kemenkes memperkirakan evaluasi menyeluruh atas dampak program ini baru bisa dilakukan pada 2027.
Menurut pihak Kemenkes, uji coba Wolbachia di Yogyakarta sebelumnya menunjukkan penurunan insiden dengue sekitar 70 persen.
"Dari uji coba yang dilakukan di Yogyakarta beberapa tahun lalu. Inovasi ini mampu menurunkan insiden dengue sekitar 70 persen," kata Prima Yosephine.
Sementara layanan vaksinasi dengue masih terbatas dan bersifat mandiri. Hingga saat ini baru 11 dari 514 kabupaten/kota yang menyediakan layanan vaksinasi bagi anak sekolah.
Implikasi dan langkah ke depan
Peningkatan kapasitas di tingkat daerah menjadi kunci menurunkan angka kasus dan kematian. Selain itu, pelibatan masyarakat dan dukungan pembiayaan diperlukan untuk memperluas jangkauan intervensi, termasuk skala program Wolbachia dan akses vaksinasi.
Berita Terkait
Pemkab Tangerang Kurangi Takaran Obat Antisipasi Kenaikan Harga
Pemkab Tangerang kurangi takaran obat dan siapkan stok cadangan menyusul prediksi kenaikan harga obat 15–20%...
Ketua IDAI: Pertolongan Pertama untuk Anak Tersengat Listrik
Ketua IDAI ingatkan tata laksana pertolongan pertama anak tersengat listrik: periksa airway, breathing, circ...
IDAI: Risiko Gadget Ganggu Tumbuh Kembang Anak
IDAI peringatkan paparan gadget sejak dini dapat picu gangguan perkembangan dan meningkatnya penyakit tidak...
Kasus Hipertensi dan Diabetes di Kabupaten Tangerang Melonjak
Kasus hipertensi dan diabetes di Kabupaten Tangerang meningkat; Dinkes catat ratusan ribu pasien 2025 dan an...
Ketua IDAI: Cakupan Imunisasi Rendah Picu Kembalinya Penyakit Anak
Ketua IDAI Piprim Basarah sebut cakupan imunisasi anak masih rendah, memicu kembalinya penyakit yang bisa di...
IDAI Peringati HUT ke-72: Komitmen Layani Anak Indonesia
IDAI peringati HUT ke-72 di Ragunan dengan layanan langsung: pelatihan BLS, skrining tumbuh kembang, dan upa...