Kemendikdasmen dan Australia Perkuat Budaya Sekolah Aman
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggandeng Pemerintah Australia untuk memperkuat pencegahan perundungan atau bullying melalui pengembangan budaya sekolah aman dan nyaman. Peluncuran program digelar di Jakarta pada 2 Juni 2026 dan akan diterapkan pada sekolah mitra di lima provinsi dan 20 kota.
Tujuan dan kebijakan
Program ini bertujuan membangun lingkungan belajar yang mendukung tumbuh kembang peserta didik dan mencegah kekerasan antar murid. Langkah kebijakan mengacu pada Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 dan Kepmendikdasmen Nomor 17 Tahun 2026, yang menegaskan pendekatan pendidikan yang humanis dan inklusif.
Pelaksanaan dan dukungan Australia
Penerapan dilakukan lewat program sekolah mitra dan disesuaikan dengan kebutuhan tiap sekolah. Pemerintah Australia mendukung lewat program Inovasi yang menyediakan modul serta pendampingan teknis.
"Semua murid harus diterima sesuai kondisi mereka. Pendidikan harus humanis, inklusif, partisipatif, dan menggembirakan,"
kata Mendikdasmen Abdul Mu'ti saat acara peluncuran.
Wakil Duta Besar Australia, Gita Kamath, menegaskan kolaborasi akan diperkuat karena lingkungan belajar yang aman meningkatkan kemampuan belajar siswa.
"Kami percaya kemampuan belajar meningkat dalam lingkungan yang aman. Kenyamanan siswa menjadi bagian penting keberhasilan pendidikan,"
kata Gita Kamath.
Contoh praktik di sekolah mitra
Beberapa sekolah mitra menyesuaikan pendekatan sesuai kondisi lokal. SDN Sedatigede 2 Sidoarjo misalnya menjalankan program Sahabat yang melibatkan orang tua secara kualitatif, terutama untuk murid yang orang tuanya sibuk.
"Kami menerapkan program Sahabat. Intinya, menerapkan program berkelakuan baik kepada siswa dengan pendekatan yang berbeda,"
kata Faizatul Fitriyah, staf pengajar SDN Sedatigede 2.
Di SDN Pucang 1 Sidoarjo, pendekatan penguatan karakter dilakukan lewat kunjungan rumah atau home visit. Staf pengajar mendatangi rumah pelaku dan korban untuk berkoordinasi dengan orang tua tanpa memberi stigma.
"Sehingga orang tua juga bisa ikut membantu menyelesaikan masalah ini. Hasilnya, kasus itu berakhir dengan baik,"
kata Rizki Tri, staf pengajar SDN Pucang 1.
Hasil serupa juga dilaporkan di sekolah lain di Tarakan, Tuban, dan Sidoarjo. Para siswa dilaporkan merasa lebih terlindungi, nyaman, dan percaya diri serta lebih paham cara bersikap dalam situasi konflik.
"Tidak apa-apa, Bu. Nanti bisa kering sendiri,"
kata Mila Syakrina, guru SDN 06 Tarakan, mencontohkan respons siswa yang menunjukkan perubahan sikap positif antar teman.
Konsekuensi dan tindak lanjut
Dengan dukungan kebijakan dan pendampingan internasional, Kemendikdasmen berharap budaya sekolah aman menjadi bagian permanen dari pengelolaan sekolah. Pendekatan ini menekankan bukan hanya capaian akademik, melainkan juga kesejahteraan emosional siswa.
Ke depan, program akan terus disesuaikan dan dipantau agar intervensi efektif di berbagai konteks daerah.
Berita Terkait
MaiA: Platform AI Permudah Rencana Perjalanan Wisatawan
Kemenpar meluncurkan MaiA, platform AI untuk memudahkan penyusunan rencana perjalanan dan mempromosikan dest...
Pelemahan Rupiah Dongkrak Daya Saing Pariwisata Indonesia
Pelemahan rupiah membuat Indonesia lebih murah bagi wisatawan asing, mendorong kunjungan dari Asia meski tan...
Gede Narayana Ditunjuk Jadi Wakil Ketua Komisi Informasi Pusat
Gede Narayana resmi ditunjuk sebagai Wakil Ketua KIP menggantikan Arya Sandhiyudha; penetapan melalui rapat...
Pemerintah Siapkan Sanksi Publik bagi Pelanggar Uji Tuntas HAM
KemenHAM siapkan sanksi, termasuk publikasi identitas, bagi perusahaan >2.000 pekerja yang tak lapor uji tun...
DPR: Diplomasi Presiden Kunci Hadapi Tantangan Geopolitik
DPR menilai diplomasi presiden penting hadapi gejolak geopolitik; masukan publik layak dipertimbangkan, tapi...
UNDP: Uji Tuntas HAM Kini Wajib bagi Perusahaan Global
UNDP: uji tuntas HAM kini mengikat secara hukum dan jadi tuntutan investor; perusahaan Indonesia harus terap...