BMKG: Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering dan Lebih Lama
BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau 2026 yang lebih kering dan berdurasi lebih panjang dari kondisi normal. Prediksi ini disampaikan pada konferensi pers di Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026. Badan itu juga menyebut El Nino diperkirakan mencapai kategori kuat pada akhir 2026 dan bertahan hingga kuartal pertama 2027.
Intensitas dan durasi kemarau
BMKG memperkirakan puncak kemarau terjadi pada Agustus hingga September 2026. Sekitar 48,8% zona musim diperkirakan mencapai puncak pada Agustus, sementara sekitar 25% lainnya pada September.
Penjelasan BMKG
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan dampak El Nino terhadap Indonesia akan terasa saat fenomena itu bertepatan dengan musim kemarau.
Sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau yang di bawah normal, atau lebih kering dan juga mengalami durasi yang lebih panjang dari normalnya.
El Nino masih berlangsung hingga awal tahun 2027, tetapi dampaknya terhadap Indonesia hanya terjadi ketika bertepatan dengan musim kemarau. Pada umumnya musim kemarau tahun 2026 akan berakhir sekitar pertengahan Oktober dan berlanjut memasuki musim hujan pada November.
Sebaran wilayah terdampak
Wilayah yang diprediksi memasuki puncak kemarau didominasi kawasan di selatan garis khatulistiwa. Daerah itu meliputi sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Namun, wilayah di sekitar ekuator tetap berpeluang menerima hujan karena karakteristik iklimnya berbeda.
Status zona musim saat ini
Hingga pertengahan Juli 2026, BMKG mencatat sebanyak 509 zona musim atau sekitar 54,5% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sebanyak 77 zona musim masih mengalami hujan dan belum memasuki musim kemarau.
| Indikator | Jumlah / Persentase |
|---|---|
| Zona yang sudah kemarau | 509 (54,5%) |
| Zona yang masih hujan | 77 |
| Zona dengan durasi kemarau lebih panjang | 437 zona |
| Puncak kemarau - Agustus | 48,8% |
| Puncak kemarau - September | 25% |
Imbauan dan langkah antisipasi
BMKG meminta pemerintah daerah dan masyarakat memanfaatkan informasi prakiraan iklim untuk menyusun langkah antisipasi. Rekomendasi meliputi penyesuaian pola tanam, pengelolaan sumber daya air, kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan, serta mitigasi kebakaran hutan dan lahan.
Prediksi BMKG memberi gambaran urgensi pemantauan lebih intensif menuju akhir 2026, terutama bagi daerah yang bergantung pada musim hujan untuk pertanian dan pasokan air.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kemenbud Usulkan Tari Zapin ke UNESCO untuk Perkuat Pelestarian
Kementerian Kebudayaan mengusulkan Tari Zapin ke UNESCO (29 Sept 2026) untuk memperkuat pelestarian lintas g...
Korlantas Buka Layanan Blokir ETLE di Samsat Seluruh Indonesia
Korlantas membuka layanan pengurusan blokir ETLE langsung di Samsat mulai 30 September 2026 untuk memudahkan...
STNK Digital Resmi Berlaku, Pengendara Tak Perlu Bawa STNK Fisik
Korlantas luncurkan STNK Digital lewat aplikasi Digital Korlantas; dokumen elektronik ini setara hukum denga...
Basarnas Alihkan Pencarian Jurnalis ke Operasi SAR Rutin
Basarnas tetap melanjutkan pencarian lima jurnalis lewat operasi SAR rutin; pencarian berlangsung 24 jam ses...
Wamensos Dorong Pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan
Wamensos mendorong percepatan pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan; Pemkab sediakan lahan 8,1 ha untuk m...
Menko Pangan Tawarkan Insentif Karbon untuk Investor Hijau
Menko Pangan Zulkifli Hasan tawarkan insentif pasar karbon untuk tarik investasi hijau di sektor pangan, sam...