Nasional

Fadli Zon: Kemajemukan Budaya Kekuatan Persatuan Indonesia

Bagikan:
Menteri Kebudayaan Fadli Zon berbicara pada Jamuan Madani Malindo di Museum Kebangkitan Nasional

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan kemajemukan budaya menjadi kekuatan untuk menjaga persatuan Indonesia. Pernyataan itu disampaikan saat Jamuan Makan Malam Penyambutan Majelis Cendekiawan Madani Malaysia-Indonesia di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat, Kamis malam, 20 Agustus 2026. Ia menilai tema perjamuan, Negara Madani Dalam Konfigurasi Kemajemukan Budaya, relevan dengan arah penguatan kebudayaan nasional.

Inti pernyataan dan konteks acara

Fadli menjelaskan kementerian yang dipimpinnya baru berdiri hampir dua tahun setelah dipisahkan dari rumpun lain. Meski baru, ia menegaskan kebudayaan memiliki peran strategis yang harus diperkuat melalui kebijakan berkelanjutan.

Indonesia memiliki kemajemukan luar biasa, dengan 1.340 etnis dan 718 bahasa tersebar dari Sabang hingga Merauke. Keragaman tersebut bukan ancaman, melainkan kekuatan yang dapat memperkuat Indonesia sebagai negara kokoh dan berdaulat.

Dia menyampaikan hal itu di hadapan delegasi Madani Malindo, forum dialog antara cendekiawan Malaysia dan Indonesia yang fokus pada pertukaran gagasan tentang kebudayaan, kemajemukan, dan kehidupan bernegara.

Data keragaman yang menjadi modal kebangsaan

Fadli memaparkan beberapa angka yang menunjukkan kompleksitas budaya Indonesia. Ia menyebut keberadaan sekitar 28 aksara Nusantara, 1.340 suku, dan 718 bahasa sebagai bukti kekayaan budaya yang harus dirawat bersama.

Menurutnya, keragaman ini tersebar dari Pulau Miangas di utara hingga Pulau Rote di selatan. Pengelolaan perbedaan tersebut, kata Fadli, menjadi salah satu alasan Indonesia mampu bertahan selama 81 tahun sebagai satu negara yang utuh.

Dasar persatuan: sejarah, budaya, dan Pancasila

Fadli menggarisbawahi peran Pancasila sebagai landasan yang menyatukan bangsa. Ia menilai ikatan sejarah, budaya, dan agama turut memperkuat fondasi kebangsaan Indonesia.

Kita memiliki ikatan sejarah, budaya, agama, serta Pancasila yang menjadi fondasi dalam menjaga persatuan bangsa Indonesia.

Dalam pandangannya, pengalaman Indonesia berbeda dengan negara-negara seperti Uni Soviet dan Yugoslavia yang kemudian terpecah. Indonesia justru mengelola perbedaan menjadi kekuatan bersama.

Tujuan dialog Madani Malindo

Fadli berharap forum Madani Malindo membuka ruang baru untuk memperkuat kerja sama kebudayaan antara Indonesia dan Malaysia. Kolaborasi tersebut, menurutnya, dapat mengokohkan persatuan kawasan Asia Tenggara melalui pemajuan kebudayaan.

Cendekiawan Muslim Din Syamsuddin menyambut baik penyelenggaraan pertemuan kedua ini di Jakarta setelah pertemuan perdana di Kuala Lumpur. Ia menyebut forum sebagai sarana penting untuk memperluas dialog dan mempererat hubungan budaya kedua negara.

Madani Malindo yang kedua berlangsung di Jakarta, setelah sebelumnya pertemuan pertama berlangsung di Kuala Lumpur tahun lalu,

Penutup: implikasi kebijakan

Penyelenggaraan Madani Malindo dan pernyataan pejabat tinggi kebudayaan menegaskan upaya menjadikan kebudayaan sebagai instrumen strategis. Ke depan, disahkannya kebijakan yang menopang pelestarian bahasa, aksara, dan ragam budaya dianggap krusial untuk mempertahankan identitas nasional sekaligus memperkuat persatuan.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait