Lokal

Kanker Ovarium: Gejala, Risiko, dan Pentingnya Deteksi Dini

Bagikan:
Dokter menjelaskan gejala dan risiko kanker ovarium pada perempuan

MEDAN — Dokter dari Columbia Asia Hospital Medan memperingatkan masyarakat tentang pentingnya deteksi dini kanker ovarium setelah data menunjukkan lebih dari 15.000 kasus di Indonesia. Penyakit ini menempati peringkat ke-10 kanker terbanyak di dunia dan menjadi penyebab kematian ketiga tertinggi pada perempuan. Pernyataan disampaikan saat wawancara dengan awak media, Selasa (26/5).

Faktor risiko dan gejala utama

dr Dwi Faradina MKed(OG), Subsp Onk, menyebutkan beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan kanker ovarium. Faktor tersebut meliputi riwayat kista ovarium, riwayat keluarga kanker ovarium atau payudara, mutasi genetik, pertambahan usia, gaya hidup tidak sehat, serta sedikit atau tidak memiliki anak.

Ia menegaskan gejala kanker ovarium sering tidak spesifik dan mudah disalahartikan sebagai masalah pencernaan. Ada empat gejala utama yang perlu diwaspadai:

  • Perut sering kembung
  • Nyeri perut atau panggul
  • Cepat kenyang atau penurunan nafsu makan
  • Sering buang air kecil

"Jika sering mengalami empat gejala ini dan memiliki faktor risiko tersebut, harus segera diwaspadai. Jangan dianggap sekadar kembung biasa. Deteksi dini sangat penting sebelum kanker berkembang ke stadium lanjut," ujar dr Dwi.

Perbedaan dengan kanker serviks

Dokter menjelaskan bahwa kanker ovarium berbeda dari kanker serviks meski sama-sama menyerang organ reproduksi wanita. Perbedaan utama ada pada lokasi, penyebab, metode deteksi, dan pencegahan.

Kanker serviks tumbuh di leher rahim dan umumnya terkait infeksi Human Papillomavirus (HPV). Skrining seperti pap smear atau tes HPV efektif untuk mendeteksi kanker serviks sejak dini. Sebaliknya, belum ada metode skrining standar yang efektif untuk kanker ovarium, sehingga penyakit ini sering baru terdiagnosis saat sudah lanjut.

Keterlambatan diagnosis dan penanganan

Menurut dr Dwi, keterlambatan diagnosis adalah tantangan terbesar. Pasien sering datang saat perut sudah membesar atau sudah terasa benjolan.

"Biasanya pasien datang sudah dalam kondisi stadium lanjut. Padahal jika terdeteksi lebih dini, peluang keberhasilan penanganan jauh lebih optimal," kata dr Dwi.

Penanganan kanker ovarium stadium lanjut memerlukan pendekatan multimodal, termasuk operasi pengangkatan massa, kemoterapi, dan radioterapi bila diperlukan.

Layanan dan ajakan peningkatan kesadaran

Direktur Columbia Asia Hospital Medan, dr Beni Satria, mengatakan rumah sakit menempatkan aspek kemanusiaan sebagai prioritas dalam pelayanan pasien kanker. Rumah sakit juga menyediakan layanan kemoterapi dan skrining sebagai upaya meningkatkan kesadaran.

"Kami berkomitmen menghadirkan layanan humanis dengan dukungan teknologi medis terkini, sekaligus memberikan dukungan moral dan emosional bagi pasien selama proses penyembuhan," ujar dr Beni.

Ia menambahkan bahwa melakukan skrining rutin dan peka terhadap gejala tubuh adalah bentuk kepedulian terhadap diri dan keluarga.

Kesimpulannya, karena gejala kanker ovarium sering samar dan tidak ada skrining standar yang mudah, kewaspadaan terhadap gejala dan pemeriksaan medis seperti USG bila dicurigai sangat penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait